Pendidikan Islam Masa Pesantren
Nusantara
Makalah
Disusun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
SEJARAH PENDIDIKAN
ISLAM
Dosen Pembimbing : Yoga
Sari Prabowo,M. Pd. I
![]() |
Disusun Oleh :
1. Slamet Haryanto
2. Arsad
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM (2-A)
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
MARET 2016
KATA PENGANTAR
Alkhamdulilah puji sukur kami
panjatkan kehadirat Alloh SWT atas rohmat,karunia,taufik dan hidayah-Nya. Kami menyelesaikan
makalah dengan judul Ilmu Kalam kajian atas Pendidikan Islam Masa Pesantren
Nusantara. Dan rasa terimakasih pun
tidak lupa kami ucapkan kepada :
1.
Bapak
Nurul Amin, M.Ag selaku Kepala Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah
Tulungagung.
2.
Bapak
Yoga Sari Prabowo, S. Pd. I
Penulis menyadari betul bahwa masih
banyak terdapat sekali kekurangan dalam penyusunan makalah ini . Untuk itu kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan. Disamping
itu penulis juga berharap semoga materi yang dipaparkan dalam makalah ini,
dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.
Tulungagung , 10 Maret 2016
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ……………………………………………………………………………………………. I
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………………………. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah…………………………………………………………………………. I
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………. I
C.
Tujuan Pembahasan………………………………………………………………………………. I
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pendidikan Islam Masa Pesantren Nusantara
A.
Pengertian dan Sejarah Pesantren Nusantara……….…………………………………….. 2
B.
Tujuan Pendidikan Pesantren…. ………………………………………………………… 5
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………. 12
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………………………….. 13
Iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang :
pendapat yang menyebutkan
bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat.
Pandangan ini dikaitkan dengan fakta bahwa penyebaran Islam di Indonesia pada
awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat dengan dipimpin oleh kyai
. Salah satu kegiatan tarekat adalah melakukan ibadah di masjid di bawah
bimbingan kyai . Untuk keperluan tersebut, kyai menyediakan ruang- ruang khusus
untuk menampung para santri sebelah kiri dan kanan masjid. Para pengikut
tarekat selain diajarkan amalan-amalan tarekat mereka juga diajarkan kitab
agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam
B.
Rumusan Masalah
1
Pendidikan Islam Masa Pesantren di Nusantara
2
Sejarah Pesantren Nusantara
3
Tujuan Pendidikan Pesantren
C.
Tujuan
a.
Menjelaskan Sejarah Pesantren Nusantara
b.
Menjelaskan Tujuan Pendidikan Pesantren
1
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian dan Sejarah Pesantren Nusantara
Pengertian Pesantren : Secara
etimologi kata pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan “pe” dan
akhiran “an” berarti tempat tinggal santri. Asal kata pesantren juga dianggap
gabungan dari kata sant (manusia baik) dengan suku kata ira
(suka menolong), sehingga kata pesantren dapat diartikan sebagai tempat
pendidikan manusia baik-baik..
Profesor John
berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, artinya guru
mengaji, ada juga yang mengatakan bahwa santri mempunyai arti orang yang tahu
buku-buku suci, buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. CC Berg
berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari kata shastni yang dalam
bahasa India adalah orang-orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau
seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Istilah pesantren
masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu,
sebelum datangnya Islam. Hal itu berarti metode dan kurikulum di pesantren
banyak diwarnai ajaran non Islam. Setelah berkembangnya Islam di Indonesia,
maka lembaga pesantren itu mendapat isi ajaran Islam. Di luar pulau Jawa
lembaga pendidikan pesantren ini disebut dengan nama lain seperti surau di
Sumatra Barat, Rangkang dari Dayah di Aceh, dan pondok di daerah lain.
Secara
terminologi Steenbrink menjelaskan bahwa pendidikan pesantren dan ditinjau dari
bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum adanya proses penyebaran Islam
di Indonesia, sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan
pengajaran agama Hindu di Jawa. Kemudian setelah Islam masuk dan tersebar di
Jawa sistem tersebut diambil alih oleh Islam. Dengan kata lain pesantren dapat
didefinisikan dengan lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki kekhasan
tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan dan pengajaran agama. Dari
segi historisnya pesantren dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan
sebelum Islam datang dan masuk ke Indonesia, sebab lembaga yang serupa sudah
ada semenjak Hindu dan Budha.[1]
Pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam yang mempunyai tiga ciri umum yaitu : kyai
sebagai figur sentral, asrama sebagai tempat tinggal para santri, masjid
sebagai pusat kegiatan serta adanya kegiatan pendidikan dan pengajaran agama
Islam melalui sistem pangajian kitab dengan metode wetonan, sorogan, dan
musyawarah, yang kini sebagian telah berkembang dengan sistem klasikal atau
madrasah. Adapun ciri khususnya adalah adanya
kepemimpinan
yang kharismatik dan suasana keagamaan yang mendalam. Menurut Marwan Sarijo,
pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memebrikan pendidikan dan pengajaran
agama Islam dengan sistem bandongan, sorogan dan wetonan. Para santri
disediakan pondokan atau merupakan santri yang dalam istilah pendidikan modern
memenuhi kriteria pendidikan non formal dan menyelenggarakan pendidikan formal
berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai bentuk tingkatan dan
aneka kebutuhan masyarakat.
Menurut KH. Ali
Maksum pesantren merupakan asrama tempat tinggal para kyai beserta keluarga
dengan santri yang mengaji di tempat yang disediakan. Pengajian yang dimaksud
adalah berbahasa Arab, baik yang berupa karangan-karangan lama ataupun
buah karya pengarang baru. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren memiliki misi
yang sangat luas dan kompleks, yang terutama dan paling mendasar adalah
pemahaman terhadap agama dan dakwah Islamiyah.[2]
Karakteristik
lembaga pendidikan pesantren dan unsur-unsur kelembagaannya tidak dapat
dipisahkan dari sistem kultural, dan tidak dapat pula diletakkan pada semua
pesantren secara uniformitas karena setiap pesantren, sebab setiap pesantren
memiliki keunikan masing-masing. Pesantren bukan semacam sekolah atau madrasah
walaupun dalam lingkungan pesantren sekarang ini telah banyak didirikan
unit-unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus.
Sejarah Pesantren : Mastuhu
menyatakan bahwa, kapan pesantren pertama kali didirikan, dimana, dan oleh
siapa, tidaklah dapat diperoleh keterangan yang pasti. Menurut data dari
Departemen Agama pada tahun 1984-1985, diperoleh keterangan bahwa pesantren
tertua didirikan pada tahun 1062 atas nama pesantren Jan Tampes II di Pamekasan
Madura. Namun seperti pernyataan Mastuhu, hal tersebut diragukan,
tentunya ada pesantren Jan Tampes I yang usianya lebih tua, dan dalam buku
departemen agama tersebut banyak dicantumkan tanpa tahun pendirian, jadi ada kemungkinan
mereka memiliki usia lebih tua.
Jika dicermati
sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisional di Jawa dan Madura
lebih dikenal dengan sebutan Pondok. Pondok berasal dari bahasa Arab funduq¸
yang berarti hotel, asrama, pesanggrahan atau penginapan bagi para musafir,
sehingga pondok diartikan dengan tempat murid-murid belajar mengaji atau
disebut tempat belajar agama Islam.
Ada dua
pendapat yang berbeda mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya lembaga
pendidikan pesantren di Indonesia.
Pertama, pendapat yang
menyatakan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam itu sendiri, yaitu
tradisi tarekat. Pesantren memiliki kaitan yang erat dengan pendidikan
yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta, penyiaran Islam di
Indonesia pada awalnya dalam bentuk kegiatan tarekat, indikatornya
adalah terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang
melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat disebut kyai,
khalifah atau mursyid. Pada beberapa tarekat ada yang mewajibkan
pengikutnyan untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun
dengan cara tingggal bersama anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk
melakukan ibadah-ibadah dengan bimbingan kyai. Para kyai menyediakan ruang
khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terletak di kiri kanan masjid.
Selain mengerjakan amalan-amalan tarekat, para pengikut juga diajarkan
kitab-kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Aktifitas
yang diikuti oleh pengikut tarekat kemudian dinamakan pengajian. Perkembangan
selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga
pesantren.[3]
Kedua, pesantren yang
ada saat ini pada mulanya pengambilalihan dari sistem pesantren yang diadakan
oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Dasarnya pada fakta bahasa sebelum
datangnya Islam ke Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negara ini.
Pendirian pesantren pada masa itu dimaksudkan untuk mengajarkan ajaran-ajaran
agama Hindu dan tempat membina kader-kader Hindu. Tradisi penghormatan murid
kepada guru yang pola hubungannya tidak didasarkan pada hal-hal yang sifatnya
materi juga bersumber dan tradisi Hindu. Fakta lain menunjukkan bahwa pesantren
bukan berakar pada tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di
negara-negara Islam lainnya. Lembaga yang serupa dengan pesantren banyak
ditemukan dalam masyarakat Hindu dan Budha, seperti di India, Myanmar, dan
Thailand
Menurut
Wahjoetomo, pesantren yang berdiri di tanah air, khususnya pulau Jawa dimulai
dan dibawa oleh Wali songo, pondok pesantren yang pertama kali didirikan oleh
Syekh Maulana Maghribi atau Syekh Maulana Malik Ibrahim (w. 12 Rabiul Awal 822
H/April 1419 M) di Gresik. Data dari Departemen Agama tahun 1984/1985 jumlah
pesantren pada abad ke-16 ada 613 buah, akan tetapi tidak diketahui tahun
berapa pesantren itu didirikan. Berdasarkan laporan pemerintah Hindia Belanda
tahun 1831 ada 1.853 lembaga pendidikan Islam di Indonesia dengan jumlah murid
16.556, laporan tersebut belum dipisahkan antara lembaga pengajian dan lembaga
pesantren. Setelah ada laporan penelitian Van Den Berg tahun 1885 diketahui ada
14.929 lembaga pesantren.
Masa berikutnya,
lembaga pesantren terus berkembang dari segi jumlah, sistem dan materi yang
diajarkan. Tahun 1910 pesantren Denanayar, Jombang mulai membuka pondok khusus
santri perempuan, kemudian tahun 1920-an di Jawa Timur seperti Tebu Ireng di
Jombang, Pesantren Singosari di Malang, mulai mengajarkan ilmu umum seperti
bahasa Indonesia, bahasa Belanda, berhitung ilmu bumi dan
sejaran[4]
Setelah
khalifah Usman wafat, kekhalifahan digantikan oleh Ali. Dan belum lama
memerintah sebagai khalifah, Ali mendapatkan tantangan dari Aisyah, Talhah Dan
Zubair. Tetapi tantangn tersebut dapat diselesaikan dengn perang. Dan tantangn
berikutnya yaitu dari Mu`awiyah. Mu`awiyah menuduh bahwa Ali turut campur dalam
pembunuhan Khalifah Usman karena Muhammad Ibn Abi Bakar (pembunuh Usman) adalah
anak angkat dari Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali tidak mengambil tindakan
keras atas kasus tersebut.
Selanjutnya
Khalifah Ali dan Mu`awiyah melakukan poeperangan di bukit siffin. Yang
akhirnaya Khalifah Ali dapat memojokkan Mu`awiyah. Akan tetapi karena kelicikan
dari kelompok Muawiyah, yaitu dengan mengangkat Al-Qur`an keatas (tanda-tanda
perdamaian), kelompok Ali pecah menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok ynag
setuju untuk berdamai deng tetap ikut kepada khalifah Ali(Syiah) dan kelompok
yang tidak ingin untuk berdamai (Kawarij).
Demikianlah beberapa persoalan poliitk yang akhirnya memicu terjadinya permasalahan
teologi. Yaitu dimulainya persoalan dosa besar karena membunu Khalifah Usman.
Dan timbullah persoalah siapa yang kafir dan siapa yang tidak kafir.dalam arti
siapa yang masih dalam islam dan siapa yang sudah keluar dalam islam. Dari
sinilah awal muncul tiga aliran teologi yaitu yang pertama, Aliran Khawarij
yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir (murtad) dan oleh
karena itu wajib di bunuh.
Aliran yang kedua, yaitu Aliran Murji`ah yang menegaskan bahwa orang yang
melakukan dosa besar masih dikatakan mukmin, adapun dosa yang dilakukan
terserah Allah SWT. Aliran yang ketiga, yaitu Aliran Mu`tazilah yang menyatakan
bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir dan juga bukan mukmin,
melainkan berada diantaranya (almanzilah bain almanzilah). Dan demikianlah
sebenarnya sebuah persoalan fiqh (pertalian dengan manusia) yang mengantarkan
menjadi masalah kepercayaan (teologi).
Setiap lembaga
pendidikan tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam proses
pendidikannya. Demikian juga lembaga pendidikan pesantren memiliki tujuan
pendidikan yang hendak dicapai. Menurut M. Arfin tujuan didirikannya pondok
pesantren, terbagi menjadi dua hal :
1) Tujuan Khusus, mempersiapkan santri
untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang
bersangkutan serta mengamalkan dalam masyarakat.
2) Tujuan Umum, membimbing anak didik
untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu
agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu
dan amalnya.
Dalam
perjalanan sejarahnya pesantren merupakan lembaga pendidikan non formal swasta
murni yang tidak mengajarkan ilmu umum. Seluruh program pendidikan disusun
sendiri dan umumnya bebas dari ketentuan formal. Program pendidikannya
mengandung proses pendidikan formal yang berjalan sepanjang hari di bawah
pengawasan atau monitoring kyai. [5]
Kebutuhan
masyarakat terhadap pendidikan mendorong masyarakat Islam di Indonesia
mengadopsi dan mentransfer lembaga keagamaan dan sosial yang sudah ada (indigenous
religious and social institution) dalam lembaga pendidikan Islam di
Indonesia. Pesantren sebagai lembaga indigenous, oleh Azyumardi Azra
dalam bukunya Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam dinyatakan
bahwa “pesantren memiliki akar sosiohistoris yang cukup kuat, sehingga
membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia kelimuan
masyarakatnya, sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan”.
Dengan kata lain lembaga pesantren dapat bertahan karena ia tidak hanya identik
dengan makna keislaman tetapi karakter eksistensialnya yang mengandung arti
keaslian Indonesia. Sebagai lembaga indigenous pesantren muncul dan
berkembang dari pengalaman sosiologi masyarakat dan lingkungannya.
Penyelenggaraan
pendidikan serta pengajaran di pesantren berdasarkan atas ajaran Islam dengan
tujuan ibadah untuk mendapatkan ridha Allah swt, waktu belajar tidak dibatasi,
santri dididik menjadi mukmin sejati, integritas pribadi yang kukuh, mandiri
dan mempunyai kualitas intelektual, dengan harapan santri dapat menjadi panutan
dalam masyarakat, menyebarluaskan citra nilai budaya pesantren dengan penuh
keikhlasan, dan menyiarkan dakwah Islam.[6]
Adapun
prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan adalah (1) kebijaksanaan, (2) bebas
terpimpin, (3) mandiri, (4) kebersamaan, (5) hubungan guru, (6) ilmu
pengetahuan diperoleh dengan kemampuan akal dan kesucian hati serta berkah
kyai, (7) kemampuan mengatur diri sendiri, (8) sederhana, (9) metode pengajaran
yang luas, (10) ibadah. Ada lima elemen dasar pesantren yaitu: pondok, masjid,
santri, kyai, dan pengajaran kitab-kitab klasik, hal itu yang membedakan dengan
lembaga pendidikan lainnya, berikut adalah penjelasannya:
1. Pondok.
Merupakan asrama tempat bagi para santri utnuk tinggal bersama dan belajar
dibawah bimbingan kyai. Umumnya kompleks pesantren dikelilingi dengan pagar
sebagai pembatas yang memisahkannya dengan masyarakat umum, namun ada pula yang
tidak berbatas. Bangunan setiap pondok berbeda-beda baik kualitas ataupun
kelengkapannya, ada yang didirikan atas biaya kyainya, gotong royong santri dan
sumbangan para warga masyarakat atau sumbangan dan pemerintah. Dalam tradisi
pesantren ada kesamaan umum yaitu kyai memimpin pesantren mempunyai wewenang
dan kekuasaan mutlak atas pembangunan dan pengelolaan pondok.[7]
2. Masjid. Masjid
merupakan unsur dasar yang harus dimiliki pesantren, sebab ia adalah tempat
utama yang ideal untuk mendidik dan melatih para santri khususnya dalam tata
cara ibadah, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan kegiatan kemasyarakatan.
Dalam lingkungan pesantren, bangunan masjid terletak di dekat kediaman kyai dan
berada di tengah-tengah kompleks pesantren.
3. Pengajaran
Kitab-kitab Klasik, dengan menggunakan metode yang lazim digunakan dalam proses
pembelajaran sebagai berikut :
a. Metode sorogan,
yaitu proses pembelajaran yang mana kyai hanya menghadapi seorang santri atau
sekelompok kecil santri yang masih dalam tingkat dasar. Pelaksanaan metode sorogan
yaitu santri menyodorkan sebuah kitab dihadapan kyai, kemudian kyai
membacakan bagian dari kitab tersebut selanjutnya santri mengulangi bacaan
dengan bimbingan kyai sampai santri benar-brnar menguasai materi, setelah itu
barulah ditambahkan materi yang selanjutnya, sedangkan yang belum harus mengulangi.
b. Metode wetonan
dan bandongan, metode pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah
(interractive lecturing). Pada metode ini kyai biasanya membacakan,
menerjemahkan, lalu menjelaskan kalimat-kalimat yang sulit dalam suatu kitab, para
santri menyimak bacaan kyai sambil membuat catatan penjelas di bagian pinggir
kitab.
c. Metode
musyawarah, merupakan sistem belajar dalam bentuk seminar guna membahas setiap
masalah yang berhubungan dengan pelajaran santri, yaitu santri aktif mempelajari
dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. Kyai hanya
memberikan bimbingan seperlunya, adapun bidang ilmu dari kitab yang diajarkan
di pesantren adalah : nahwu (tata bahasa Arab), sharaf (sistem bentuk kata
Arab), fiqih, ushul fiqih, hadis, tauhid, tasawuf, juga cabang ilmu agama
misalnya balaghah dan tarikh. Kitab-kitab yang diajarkan
berdasarkan pada tingkat-tingkat santri, untuk tingkat dasar diajarkan susunan
bahasanya sederhana, tingkat menengah diajarkan kitab yang agak rumit
bahasanya, pada tingkat tinggi atau takhasus atau spesialisasi diberikan
kitab yang tebal dan rumit susunan bahasanya.[8]
4. Santri. Santri
adalah peserta didik yang tinggal di pesantren, santri yang belajar dalam satu
pondok pesantren memiliki rasa solidaritas dan kekeluargaan yang baik antara
sesama santri maupun antara santri dan kyai. Situasi yang berkembang diantara
para santri belajar hidup bermasyarakat, bernegoisasi, memimpin, dan dipimpin,
selain itu juga harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan kyai.
Jumlah santir dapat dijadikan tolok ukur maju mundurnya pesantren, semakin
banyak santri yang ada pada sebuah pesantren maka dinilai semakin baik,
demikian sebaliknya. Santri ada dua macam yaitu santi mukim dan kalong. Santri
mukim adalah santri yang selama menuntut ilmu tinggal dalam pondok yang
disediakan pesantren, sedangkan santri kalong adalah santri yang tinggal di
luar kompleks pesantren baik di rumah sendiri maupun di rumah-rumah penduduk
sekitar di lokasi pesantren.
5. Kyai. Adalah
istilah yang bersal dari Jawa, yang digunakan untuk tiga jenis gelar yang
saling berbeda: pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang
yang dianggap keramat, seperti kyai Garuda Kencana yang dipakai untuk kereta
emas yang ada di keraton Yogyakarta, kedua gelar kehormatan bagi orang
tua pada umunya, ketiga gelar yang diberikan masyarakat kepada orang
agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan
kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya. Sedangkan Aliy As`ad menambahkan
bahwa gelar kyai digunakan dalam tiga dimensi : pertama kyai ulama`
seperti Kyai Hasyim Asy`ari, Kyai Mahfudz Al-Termasi, dan lainnya, kedua
kyai sebutan artinya sebutan kepada yang mempunyai kelebihan, juga memiliki
pendukung yang mengakui kelebihannya, ketiga yakni kyai aku-akuan yang
sebenarnya tidak memiliki kelebihan apa-apa. Abuddin Nata menyatakan bahwa kyai
secara kelimuan memiliki ciri-ciri antara lain : menguasai ilmu agama secara
mendalam, keilmuan yang dimiliki telah mendapat pengakuan dari masyarakat
sekelilingnya, menguasai kitab kuning dengan matang, taat beribadah kepada
Allah swt, mempunyai kemandirian dalam bersikap, tidak mau “mendatangi”
penguasa, mempunyai geneologi kekyaian, memperoleh ilham dari Allah swt. Bila
memenuhi kriteria tersebut, layaklah seseorang itu disebut kyai
dalam pengertian yang lazim.[9]
Adapun kekhasan
pesantren dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya adalah para santri
atau peserta didik tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam satu
kompleks tertentu yang mandiri, sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas
pesantren seperti : adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai, santri
taat dan patuh kepada kyainya, para santri hidup secara mandiri dan sederhana,
adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan, dan para santri
terlatih hidup berdisiplin dan terikat.[10]
Macam-macam
pola perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan pesantren diantaranya sebagai
berikut:
1) Pesantren hanya terdiri dari masjid dan
rumah kyai, ini adalah pesantren sangat sederhana, masjid dan rumah kyai
digunakan sebagai tempat mengajar, sedangkan santri berasal dari sekitar
pesantren.
2) Pesantren terdiri dari masjid, rumah
kyai, dan pondok atau asrama, madrasah, pola ini telah dilengkapi pondok yang
disediakan bagi para santri yang berasal dari daerah lain.
3) Pesantren yang didirikan dan masjid,
rumah kyai, pondok atau asrama. Pola ini memakai sistem klasikal, santri
mendapatkan pelajaran di madrasah selain itu juga belajar mengaji, mengikuti
pengajaran yang diberikan oleh kyai di pondok.
4) Pesantren yang telah berubah
kelembagaannya, terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah
dan tempat ketrampilan. Pola ini lengkap dengan tempat ketrampilan agar santri
terampil dengan pekerjaan yang sesuai dengan sosial kemasyarakatannya misal
pertanian, peternakan dan menjahit.
5) Pesantren seperti pola yang keempat,
namun ditambahkan universitas, gedung pertemuan,olah raga dan sekolah umum.
Pola ini sebagai tanda lembaga pendidikan tersebut telah berkembang dan bisa
dikatakan sebagai pesantren modern.[11]
BAB III
KESIMPULAN
Pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam yang mempunyai tiga ciri umum yaitu : kyai
sebagai figur sentral, asrama sebagai tempat tinggal para santri, masjid
sebagai pusat kegiatan serta adanya kegiatan pendidikan dan pengajaran agama
Islam melalui sistem pangajian kitab dengan metode wetonan, sorogan, dan
musyawarah, yang kini sebagian telah berkembang dengan sistem klasikal atau
madrasah. Adapun ciri khususnya adalah adanya kepemimpinan yang kharismatik dan
suasana keagamaan yang mendalam.
Dalam
perkembangan asal usul pesantren di Indonesia ada dua pendapat : Pertama, pendapat
yang menyatakan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam itu sendiri, yaitu
tradisi tarekat. Pesantren memiliki kaitan yang erat dengan pendidikan
yang khas bagi kaum sufi. Kedua, pesantren yang ada saat ini pada
mulanya pengambilalihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang
Hindu di Nusantara.
Lembaga
pendidikan pesantren memiliki tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Menurut M.
Arfin tujuan didirikannya pondok pesantren, terbagi menjadi dua hal :
ü Tujuan Khusus, mempersiapkan santri untuk menjadi orang
alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkan
dalam masyarakat.
ü Tujuan Umum, membimbing anak didik untuk menjadi manusia
yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh
Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya
Pada masa penjajahan Belanda pesantren
sudah didirikan, kemudian dalam perkembangannya dimulai pada masa orde baru ada
perhatian pemerintah untuk membantu membina dan mengembangkan pesantren, dengan
usaha-usaha melalui pelita dan SKB menteri agama. Perkembangan pesantren masih
dapat terlihat sampai saat ini dengan semakin banyaknya pesantren sebagai
bentuk eksistensi lembaga pendidikan khas Indonesia (indigenous).[12]
DAFTAR PUSTAKA
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam
:UIN-Malang Press,2008.
Azra,
Azyumardi, Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam,
Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998.
Departemen Agama RI, Nama dan Data Potensi
Pondok-Pondok Pesantren
Seluruh Indonesia, 1984/1985.
.
13
[2]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
3
[3]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
4
[4]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
5
[5]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
6
[6] Azra, Azyumardi, Esai-esai Intelektual
Muslim dan Pendidikan Islam,
Jakarta : Logos Wacana
Ilmu, 1998.
[7]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
7
[8]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
8
[9]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
9
[12]
H.Zeid B.Smeer,Lc,MA,Sejarah Islam :UIN-Malang Press,2008.
11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar