METODOLOGI PENELITIAN
Hipotesis Penelitian
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Dosen Pembimbing :
DR. Afiful Ikhwan, M.Pd.I
![]() |
Disusun Oleh:
Kelompok 5
1.
Arin Kristiani (20154711053)
2.
Slamet Haryanto (20154711044)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (IV-A)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
MARET 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat
limpahan rahmad dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah dengan
judul “Metodologi Penelitian”: Hipotesis Penelitian. Dalam menyusun makalah
ini,syukur alhamdulilah penulis tidak menjumpai hambatan atau masalah yang serius. Semua
itu berkat fasilitas yang telah diberikan oleh lembaga baik berupa perpustakaan
maupun sarana dan prasarana yang lain. Oleh sebab itu penulis menyampaikan
terima kasih kepada:
1.
Nurul Amin,M.Ag selaku Ketua
Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Tulungagung
2.
DR. Afiful Ikhwan, M.Pd.I
selaku Dosen Pembimbing
Penulis menyadari betul bahwa masih
terdapat banyak sekali kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Maka kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan. Disamping itu, penulis juga
berharap semoga materi yang dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca umumnya dan penulis khususnya.
Tulungagung, 23 Maret
2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................................... 1
C. Tujuan Pembahasan....................................................................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Hipotesis..................................................................... 2
B.
Karakteristik Hipotesis................................................................. 4
C. Bentuk-Bentuk Hipotesis............................................................. 7
D. Dasar Perumusan Hipotesis......................................................... 7
E. Cara Merumuskan Hipotesis
F. Tahap-Tahap Pembentukan Hipotesis Secara
Umum
G. Kegunaan Hipotesis
H. Prosedur Pengujian Hipotesis
I. Karakteristik Hipotesis yang Baik
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan......................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Penelitian merupakan
suatu kegiatan untuk mencari jawaban dari sebuah persoalan melalui pengumpulan
data berdasarkan hasil analisa dalam proses penelitian. Penelitian dipandang
sebagai upaya menjawab pemasalahan secara sistematik dengan metode-metode
tertentu melalui pengmpulan data empiris, mengolah, dan menarik kesimpulan atas
jawaban suatu masalah.
Dalam melakukan
penelitian seseorang dihadapkan pada permasalahan dan harus mencari jalan keluarnya,
dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang relevan. Dugaan atau perkiraan
semacam ini biasanya disebut dengan hipotesis.
Dari pembahasan di atas
kami tertarik untuk membahas lebih dalam lagi mengenai Hipotesis.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah Pengertian dari Hipotesis ?
2.
Bagaimana Karakteristik Hipotesis ?
3.
Apa saja Bentuk-Bentuk Hipotesis ?
4.
Apa Dasar Perumusan Hipotesis ?
5.
Bagaimana Cara Merumuskan Hipotesis ?
6.
Bagaimana Tahap-Tahap Pembentukan Hipotesis Secara Umum ?
7.
Apa Kegunaan Hipotesis ?
8.
Bagaimana Prosedur Pengujian Hipotesis ?
9.
Bagaimana Karakteristik Hipotesis yang Baik ?
C.
Tujuan Pembahasan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari hipotesis
2.
Untuk mengetahui bagaimana karakteristik hipotesis
3.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk hipotesis
4.
Untuk mengetahui dasar perumusan hipotesis
5.
Untuk mengetahui cara merumuskan hipotesis
6.
Untuk mengetahui tahap-tahap pembentukan hipotesis secara umum
7.
Untuk mengetahui kegunaan hipotesis
8.
Untuk mengetahui prosedur pengujian hipotesis
9.
Untuk mengetahui karakteristik hipotesis yang baik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hipotesis
Hipotesis berasal dari
dua penggal kata, hypo=di bawah; thesa=kebenaran. Jadi hipotesis secara
etimologis artinya kebenaran yang masih diragukan. Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban
yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti
kebenarannya melalui data yang terkumpul.[1]
Menurut Nana Sudjana,
hipotesis berasal dari kata hipo, artinya bawah dan tesis, artinya pendapat.
Hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih belum meyakinkan. Kebenaran
pendapat tersebut perlu diuji atau dibuktikan.[2]
Contoh:
Apabila terlihat awan
hitam dan langit menjadi pekat, maka seseorang dapat saja menyimpulkan
(menduga-duga) berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit mendung, maka…) sebentar lagi hujan akan turun.
Apabila ternyata beberapa saat kemudian hujan benar turun, maka dugaan terbukti
benar. Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis. Namun apabila ternyata tidak
turun hujan, maka hipotesisnya dinyatakan keliru.
Ketika berfikir untuk
sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan,
perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan
atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah
hipotesis di dalam penelitian, salah satu diantaranya yaitu Penelitian sosial.
Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam
pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga dapat
dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung
dapat diuji.
B.
Karakteristik Hipotesis
Satu hipotesis dapat
diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan
hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi
syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur
penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata. Untuk dapat
memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki
beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1) Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan
sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2) Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel
independen dan variabel
dependen.
3) Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang
mempunyai makna.
4) Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai
yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam
hipotesis.
5) Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen
harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid
dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat
merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik
metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6) Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk
kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan
yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif).
Sementara menurut Moh.Nazir ciri-ciri hipotesis yang baik yaitu mempunyai
a.
Harus menyatakan hubungan.
b.
Harus sesuai dengan fakta.
c.
Harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan.
d.
Harus dapat diuji.
e.
Harus sederhana.
Dengan demikian secara
umum, hipotesis yang baik harus mempertimbangkan fakta-fakta yang relevan,
harus masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam yang telah diciptakan
Tuhan. Hipotesis harus dapat diuji dengan aplikasi dediktif atai induktif untuk
verifikasi.
Selain itu hipotesis
juga dapat dibagi menjadi beberapa macam jenis dan tergantung dari pendekatan
kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut:
1.
Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan
Hipotesis dapat kita
bagi dengan melihat apakah pernyataan sementara yang diberikan adalah hubungan
ataukah perbedaan. Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang
menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variable atau lebih, yang
mendasari tekhnik korelasi atau regresi. Sebaliknya hipotesis yang menjelaskan
perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu disebabkan
oleh adanya pengaruh variable yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari
tekhnik penelitian yang komparatif. Hipotesis tentang hubungan dan perbedaan
merupakan hipotesis hubungan analitis. Hipotesis ini, secara analitis
menyatakan hubungan atau perbedaan satu sifat dengan sifat yang lain.
2.
Hipotesis kerja vs hipotesis nul
Dengan melihat pada
cara seorang peneliti menyusun pernyataan dalam hipotesisnya, hipotesis dapat
dibedakan antara hipotesis kerja dan nul. Hipotesis nul, yang mula-mula
diperkenalkan oleh bapak statistika Fisher diformulasikan untuk ditolak sesudah
pengujian. Dalam hipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”.
Perumusannya bisa dalam bentuk:
“Tidak ada beda
antara…dengan…” Hipotesis nul dapat juga ditulis dalam bentuk: “…tidak mem…”
Hipotesis nul biasanya
diuji dengan menggunakan statistika. Seperti telah dinyatakan diatas, hipotesis
nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesis nul, maka kita menerima
hipotesis pasangan, yang disebut hipotesis alternatef. Hipotesis nul biasanya
digunakan dalam penelitian eksperimental. Akhir-akhir ini hipotesis nul juga
digunakan dalam penelitian social, seperti penelitian dibidang sosiologi,
pendidikan, dan lain-lain.
3.
Hipotesis common sense dan ideal
Hipotesis acapkali
menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaja dan common sense (akal
sehat). Hipotesis ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan
terapan. Contohnya, hipotesis sederhana tentang produksi dan status pemilikan
tanah, hipotesis mengenai hubungan tenaga kerja dengan luas garapan, hubungan
antara dosen pemupukan dengan daya tahan terhadap insekta, hubungan antara
kegiatan-kegiatan dalam industry, dan sebagainya.
Sebaliknya, hipotesis
yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal.
Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara
keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Hipotesis ideal adalah peningkatan
dari hipotesis analitis. Misalnya, kita mempunyai suatu hipotesis ideal tentang
keseragaman empiris dan hubungan antar daerah, jenis tanah, luas garapan, jenis
pupuk, dan sebagainya.
C.
Bentuk-Bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk hipotesis
penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila dilihat dari
tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu:
rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan) dan
asosiatif (hubungan). Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga
ada tiga yaitu: hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif/hubungan.
1.
Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
deskriptif,
2.
Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya
yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
3.
Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
D.
Dasar Perumusan Hipotesis
Secara sederhana,
hipotesis penelitian sebagai jawaban sementara dirumuskan atas dasar terkaan
atau conjecture peneliti. Namun demikian, terkaan tersebut harus
didasarkan pada acuan, yakni teori dan fakta ilmiah.
Untuk menjadikan teori
sebagai acuan penelitian, biasanya peneliti menurunkan dari teori tersebut
sejumlah asumsi dan postulat. Asumsi-asumsi ini merupakan anggapan atau dugaan
yang mendasari hipotesis, sedangkan hipotesis itu sendiri adalah dasar untuk
memperoleh kesimpulan, setelah diuji menggunakan data yang diperoleh melalui
penelitian. (Muhammad Ali, 1992 : 33).
·
Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis dapat
pula menggunakan acuan fakta. Dalam pengertian umum, fakta adalah kebenaran
yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat dikenali
dengan panca indera. Fakta yang dimaksud dapat diperoleh dengan cara :
·
Memperoleh dari sumber aslinya
·
Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari
sumber yang asli.
·
Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya
dalam bentuk abstract reasoning (penalaran absrtak).
Selain itu semua, Good
dan secates secara khusus memberikan beberapa sumber yang dapat dijadikan
sebagai dasar bagi perumusan hipotesis, yaitu sebagai berikut:
1.
Kebudayaan dimana ilmu tersebut dibentuk
2.
Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori dan teori memberi arah kepada
penelitian
3.
Analogi merupakan sumber hipotesis
4.
Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman.
E.
Cara Merumuskan Hipotesis
Hipotesis merupakan
dugaan sementara yang mengandung pernyataan-pernyataan ilmiah, tetapi masih
memerlukan pengujian. Oleh karena itu, hipotesis dibuat berdasarkan hasil
penelitian masa lalu atau berdasarkan data-data yang telah ada sebelum
penelitian dilakukan secara lebih lanjut yang tujuannya menguji kembali
hipotesis tersebut. Akan tetapi, peneliti tidak boleh memanipulasi data
sedemikian rupa sehingga mengarah ketidakterbuktian hipotesis. Ia harus
bersikap objektif terhadap data yang terkumpul.
Maka dari itu,
merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah. Seperti yang sudah disinggung
sekurang-kurangnya ada tiga penyebab kesukaran dalam memformulasikan hipotesis,
yaitu:
·
Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka teori yang
terang,
·
Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang sudah ada, dan
·
Gagal berkenalan dengan tekhnik-tekhnik penelitian yang ada untuk dapat
merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.
Hipotesis dibentuk
dengan suatu pernyataan tentang frekuensi kejadian atau hubungan antarvariabel.
Dapat dinyatakan bahwa sesuatu terjadi dalam suatu bagian dai seluruh waktu,
atau suatu gejala yang diikuti oleh gejala lain, atau sesuatu lebih besar atau
lebih kecil dari yang lain. Biasa juga dinyatakan tentang korelasi satu dengan yang
lain.
Selain kita mengetahui
cara mengenai merumuskannya kita juga harus mengetahui kegunaan dari sebuah
hipotesis, yaitu secara garis besar adalah sebagai berikut :
·
Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja
penelitian.
·
Menyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang
kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
·
Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai
tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
·
Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar
fakta.
Namun, tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari hal
berikut :
§ Pengamatan yang tajam dari si peneliti
§ Imajinasi serta pemikiran kreatif dari si peneliti
§ Kerangka analisis yang digunakan oleh si peneliti
§ Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh si peneliti
F.
Tahap-Tahap Pembentukan Hipotesis Secara Umum
Tahap-tahap pembentukan hipotesis pada umumnya sebagai berikut :
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang
terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan
sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut,
penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
2.
Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis)
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua
kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer,
observasi tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu
konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji
coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3.
Pengumpulan fakta
Dalam penalaran ilmiah, diantara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya
dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian
dan ketepatan memilih fakta.
4.
Formulasi hipotesis
Pembentukan hipotesis dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak
dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat
hubungan tertentu diantara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa
sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat
olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat
hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
5.
Pengujian hipotesis
Artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi (penyalahan) jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak
sesuai dengan hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa
tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi(corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi
dapat disebut teori.
Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat
diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
Maka dari itu kita juga harus mengetahui manfaat dari sebuah hipotesis, karena
hipotesis banyak memberikan manfaat, baik dalam proses dan langkah penelitian
maupun dalam memberikan penjelasan suatu gejala yang diteliti. Manfaat
hipotesis bagi proses dan langkah penelitian, terutama dalam menentukan proses
pengumpulan data, seperti metode penelitian, instrument yang harus digunakan,
sampel atau sumber data, dan teknik analisis data. Unsur-unsur tersebut dapat
ditetapkan berdasarkan rumusan hipotesis. Dengan kata lain, hipotesis dapat
member petunjuk yang baik terhadap kegiatan penelitian, khususnya proses
pengumpulan data.
Adapun manfaat hipotesis dalam hal penjelasan gejala yang diteliti dapat
dilihat dari pernyataan hubungan variable-variabel penelitian. Manfaat lain
dari hipotesis ialah memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan penelitian,
yakni menarik pernyataan-pernyataan hipotesis yang telah teruji kebenarannya.
Dengan demikian, akan mempermudah peneliti maupun pembaca menangkap makna
kesimpulan penelitian.
G. Kegunaan Hipotesis
Secara garis besar,
hipotesis memberikan beberapa kegunaan dalam sebuah penelitian yaitu sebagai
beriku :
1.
Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja
peneliti
2.
Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta
3.
Sebagai alat sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai berai tanpa
koordinasi kedalam suatu kesatua
penting dan menyeluruh
4.
Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar
fakta (M. Nazir, 1999 : 183).
H.
Prosedur Pengujian Hipotesis
Fungsi hipotesis adalah
untuk memberi suatu pernyataan terkaan tentang hubungan tentatif antara
fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan tentatif ini akan diuji
validitasnya melelui teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian. Bagi
seorang peneliti, hipotesis bukan merupakan suatu hal yang menjadi vested
interes, dalam artian bahwa hipotesis harus selalu diterima kebenarannya.
Jika hipotesis ditolak berarti tidak sesuai dengan datanya. Untuk menguji
hipotesis, diperlukan data atau fakta-fakta. Kerangka pengujian harus
ditetapkan terlebih dahulu sebelum sipeneliti mengumpulkan data. Pengujian
hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori, kerangka teori,
penguasaan, penggunaan teori secara logis, statistik dan teknik-teknik pengujian.
Cara pengujian hipotesis bergantung dari metode dan desain penelitian yang
digunakan. Salah satu cara yang sering dipakai adalah berdasarkan uji
statistik.
Dalam menguji hipotesis
ini, ada beberapa langkah yang harus dilalui, dikenel dengan prosedur pengujian
hipotesis, yaitu sebagai berikut :
1.
Menentukan formulasi hipotesisnya, meliputi Hipotesis nol (Ho)
dan Hipotesis alternatif (Ha)
2.
Menentukan syaraf nyata dan nilai tabel.
3.
Menentukan kriteria pengujian.
4.
Melakukan uji statistik.
5.
Membuat kesimpulan.
I.
Karakteristik Hipotesis yang Baik
v Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan
variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua
variabel atau lebih. (pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan )
v Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai
penafsiran .
v Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.
BAB III
PENUTUP
Hipotesis berasal dari
dua penggal kata, hypo=di bawah; thesa=kebenaran. Jadi hipotesis secara
etimologis artinya kebenaran yang masih diragukan. Hipotesis dapat diartika
sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian,
sampai terbukti kebenarannya melalui data yang terkumpul.
Adapun karakteristik
yang dimiliki oleh sebuah hipotesis ialah; hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk
menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi, hipotesis harus dinyatakan secara jelas, hipotesis menyatakan
variasi nilai sehingga dapat diukur
secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti, hipotesis harus bebas nilai, hipotesis harus dapat
diuji, dan hipotesis harus spesifik. Sementara bentuk-bentuk yang dimiliki oleh
sebuah hipotesis, yaitu diantaranya; hipotesis deskriptif, hipotesis
komparatif, dan hipotesis asosiatif.
Good dan Secates secara
khusus memberikan beberapa sumber yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi
perumusan hipotesis, yaitu seperti kebudayaan dimana ilmu tersebut dibentuk,
ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori dan teori memberi arah kepada
penelitian, analogi merupakan sumber hipotesis, dan reaksi individu terhadap
sesuatu dan pengalaman.
Hipotesis merupakan
dugaan sementara yang mengandung pernyataan-pernyataan ilmiah, tetapi masih
memerlukan pengujian. Maka dari itu, merumuskan hipotesis bukanlah hal yang
mudah, yaitu; tidak adanya kerangka, kurangnya kemampuan untuk menggunakan
kerangka teori yang sudah ada, dan gagal berkenalan dengan tekhnik-tekhnik
penelitian yang ada untuk dapat merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis
secara benar.
Tahap-tahap pembentukan
hipotesis pada umumnya ialah; penentuan masalah, hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer, pengumpulan fakta,
formulasi hipotes, pengujian hipotesa, dan aplikasi/penerapan.
Secara garis besar,
hipotesis memberikan beberapa kegunaan dalam sebuah penelitian yaitu seperti;
memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja peneliti,
mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, sebagai
alat sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai berai tanpa koordinasi
kedalam suatu kesatua penting dan menyeluruh, sebagai panduan dalam pengujian
serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Dalam menguji hipotesis
ini, ada beberapa langkah yang harus dilalui, dikenal dengan prosedur pengujian
hipotesis, yaitu menentukan formulasi hipotesisnya, menentukan syarat nyata dan
nilai table, menentukan kriteria pengujian, melakukan uji statistik, dan membuat
kesimpulan. Tetapi selain itu, karakteristik dari sebuah hipotesis juga
merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, dan dinyatakan dalam
kalimat yang jelas, dan dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan
metode-metode ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Nazir, Moh.2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta
Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian. Pustaka Setia. Bandung
Sudjana, Nana. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Sinar Baru
Algensindo. Bandung
Sudjana, Nana &
Ibrahim. 2009. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru
Algensindo. Bandung
Suryana, Yana &
Tedi Priatna. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Azkia Pustaka Utama.
Bandung
Sugiyono. 2012. Metode
Penelitian. Alfabeta. Bandung
