MAKALAH
Penghargaan Islam
Terhadap Ilmu Pengetahuan
Disusun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
ILMU HADIST
Dosen Pembimbing : Suprapto, Lc
Disusun Oleh :
1. Slamet Haryanto
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (2-A)
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
MARET 2016
KATA PENGANTAR
Alkhamdulilah puji sukur kami
panjatkan kehadirat Alloh SWT atas rohmat,karunia,taufik dan hidayah-Nya. Kami
menyelesaikan makalah dengan judul Ilmu Kalam kajian atas Penghargaan Islam
Terhadap Ilmu Pengetahuan. Dan rasa terimakasih
pun tidak lupa kami ucapkan kepada :
1.
Bapak
Nurul Amin, M.Ag selaku Kepala Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah
Tulungagung.
2.
Suprapto,
Lc
Penulis menyadari betul bahwa masih
banyak terdapat sekali kekurangan dalam penyusunan makalah ini . Untuk itu kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan. Disamping
itu penulis juga berharap semoga materi yang dipaparkan dalam makalah ini, dapat
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.
Tulungagung , 10 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ……………………………………………………………………………………………. I
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………………………. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah…………………………………………………………………………. I
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………. I
C.
Tujuan Pembahasan………………………………………………………………………………. I
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Penghargaan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
A.
Pandangan Islam dalam Ilmu Pengetahuan …………………………………….. 2
B.
Apresiasi atau penghargaan ……………………………………..……………………… 5
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………. 9
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………………………….. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang :
Kehidupan agama Islam di panggung sejarah peradaban
manusia memiliki arti tersendiri, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu
dalam Islam berdasarkan paham kesatupaduan yang merupakan inti wahyu Allah Swt.
Tujuan dari semua ilmu dikembangkan berdasarkan Islam ialah untuk menunjukkan
kesatupaduan dan saling berhubungan dari segala yang ada. Turunnya wahyu Allah
Swt kepada Nabi Muhammad Saw, membawa semangat baru bagi dunia ilmu
pengetahuan, memecahkan kebekuan zaman. Lahirnya Islam membawa manusia kepada
sumber-sumber pengetahuan lain dengan tujuan baru, yakni lahirnya tradisi
intel-induktif.
al-qur’an menganggap ”anfus” (ego) dan ”afak” (dunia)
sebagai sumber pengetahuan. Allah menumpahkan tanda-tandaNya dalam pengalaman
batin dan juga pengalaman lahir. Ilmu dalam Islam memiliki kapasitas yang sangat
luas, pengalaman batin merupakan pengembangan manusia terhadap seluruh potensi
jiwa dan inteleknya. Jiwa kebudayaan Islam yang diarahkan kepada yang konkrit
dan terbatas serta yang telah melahirkan metode observasi dan eksperimen
bukanlah sebuah hasil kompromi dengan pikiran Yunani.
B.
Rumusan
Masalah
a.
Penghargaan
Islam terhadap ilmu Pengetahuan
1.
Pandangan
Islam dalam ilmu pengetahuan
2.
Apresiasi
atau penghargaan
C.
Tujuan
a.
pandangan
Islam terhadap ilmu pengetahuan
b.
Menjelaskan
apresiasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan
Sejak akhir abad ke-19
hingga kini, salah satu persoalan besar yang diangkat para pemikir muslim
adalah sikap yang mesti diambil terhadap ilmu pengetahuan modern di dunia
Barat. Perdebatan mereka dilatarbelakangi kesadaran bahwa dunia Islam pernah
menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi pada zaman modern ini, umat Islam telah
jauh tertinggal oleh dunia Barat.Perbincangan tentang Islam dan ilmu pengetahuansejakakhirabadke-19.
Pertama, periode tersebut ditandai banyak perkembangan baru dalam pemikiran Islam. Penyebab utamanya adalah kontak dan interaksi yang intensif pada beberapa kasus, bahkan berupa benturan fisik antara dunia Islam dan peradaban Barat. Gagasan seperti “kemoderenan” serta modernisme, westernisasi atau pembaratan, dan sekularisme menjadi objek utama perhatian para pemikir muslim. Demikian luasnya penyebaran gagasan baru itu, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemikiran baru Islam lahir dari keinginan untuk menanggapi fenomena tersebut.
Kedua, sejak awal perkembangan Islam, ilmu yang berdasarkan pengamatan, wahyu, atau renungan para sufi, sebagai induk ilmu pengetahuan selalu mendapatkan perhatian para pemikir muslim. Bertolak dari kecenderungan di atas, perhatian tersebut mengambil bentuk tanggapan terhadap perkembangan pesat ilmu pengetahuan modern di dunia Barat, yang dianggap tidak berinduk pada suatu ilmu yang benar.Tanggapan itu, pada dasarnya lebih merupakan reaksi dari beberapa pemikir dan aliran pemikiran yang merupakan penyempitan wilayah wacana tentang ilmu dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan periode sebelumnya, khususnya masaawalperkembanganintelektualIslam
Pertama, periode tersebut ditandai banyak perkembangan baru dalam pemikiran Islam. Penyebab utamanya adalah kontak dan interaksi yang intensif pada beberapa kasus, bahkan berupa benturan fisik antara dunia Islam dan peradaban Barat. Gagasan seperti “kemoderenan” serta modernisme, westernisasi atau pembaratan, dan sekularisme menjadi objek utama perhatian para pemikir muslim. Demikian luasnya penyebaran gagasan baru itu, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemikiran baru Islam lahir dari keinginan untuk menanggapi fenomena tersebut.
Kedua, sejak awal perkembangan Islam, ilmu yang berdasarkan pengamatan, wahyu, atau renungan para sufi, sebagai induk ilmu pengetahuan selalu mendapatkan perhatian para pemikir muslim. Bertolak dari kecenderungan di atas, perhatian tersebut mengambil bentuk tanggapan terhadap perkembangan pesat ilmu pengetahuan modern di dunia Barat, yang dianggap tidak berinduk pada suatu ilmu yang benar.Tanggapan itu, pada dasarnya lebih merupakan reaksi dari beberapa pemikir dan aliran pemikiran yang merupakan penyempitan wilayah wacana tentang ilmu dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan periode sebelumnya, khususnya masaawalperkembanganintelektualIslam
Sejak
abad ke-19, usaha untuk memberi tanggapan tersebut melahirkan sebuah diskusi
pemikiran antara Islam dan ilmu pengetahuan yang amat beragam.Tanggapan
tersebut dapat berarti usaha apologetis untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan
yang dikembangkan di Barat sebenarnya bersifat Islami. Dapat juga merupakan
usaha mengakomodasi sebagian nilai dan gagasan ilmu pengetahuan modern karena
dianggap Islami, dengan menolak sebagian lain. Tidak bisa
dipungkiri, usaha Islamisasi berbagai cabang ilmu pengetahuan dan
penciptaan sebuah filsafat ilmu pengetahuan Islam, pada akhirnya adalah
upaya untuk merekonstruksipandanganduniasertaepistemologiIslam.
Kesemua tanggapan itu dapat dikelompokkan ke dalam dua wacana besar. Pembagian atas dua wacana ini sebagian bersifat kronologis dan tematis. Wacana pertama, yang berkembang sejak abad ke-19, terfokus pada penegasan bahwa tidak terdapat pertentangan antara ilmu pengetahuan dan Islam.Penegasan tersebut didasarkan pada pandangan instrumentalis tentang ilmu pengetahuan, artinya pandangan bahwa ilmu pengetahuan sekedar alat dan tidak terikat pada nilai atau agama tertentu.Sementara hingga kini wacana tersebut masih kerap muncul, ada pula wacana baru yang mendominasi perbincangan tentang ilmu pengetahuan dan Islam, setidaknya sejak akhir tahun 1960-an, yaitu tentang Islamisasi ilmu pengetahuan.
Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon menduduki Mesir pada 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau pengaruh Eropa. Serangkaian peristiwa kekalahan berjalan hingga mencapai puncaknya dengan jatuhnya Dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologimiliterBarat.
Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peran penting dalam kampanye militer melawan Perancis.Ia diangkat oleh penguasa Utsmani menjadi Pasya pada tahun 1805, dan memerintah Mesir sampai dengan tahun 1848. Percetakan yang pertama didirikan di Mesir awalnya ditentang para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi.Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan.Muhammad Ali mendirikan beberapa sekolah teknik dengan guru-guru asing.Ia mengirim lebih dari 400 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. di beberapa wilayah Arab lain, seperti Oman dan Aljazair, upaya peng-Islaman informasi sosial serupa tampak di TurkiUsmani
Kesemua tanggapan itu dapat dikelompokkan ke dalam dua wacana besar. Pembagian atas dua wacana ini sebagian bersifat kronologis dan tematis. Wacana pertama, yang berkembang sejak abad ke-19, terfokus pada penegasan bahwa tidak terdapat pertentangan antara ilmu pengetahuan dan Islam.Penegasan tersebut didasarkan pada pandangan instrumentalis tentang ilmu pengetahuan, artinya pandangan bahwa ilmu pengetahuan sekedar alat dan tidak terikat pada nilai atau agama tertentu.Sementara hingga kini wacana tersebut masih kerap muncul, ada pula wacana baru yang mendominasi perbincangan tentang ilmu pengetahuan dan Islam, setidaknya sejak akhir tahun 1960-an, yaitu tentang Islamisasi ilmu pengetahuan.
Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon menduduki Mesir pada 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau pengaruh Eropa. Serangkaian peristiwa kekalahan berjalan hingga mencapai puncaknya dengan jatuhnya Dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologimiliterBarat.
Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peran penting dalam kampanye militer melawan Perancis.Ia diangkat oleh penguasa Utsmani menjadi Pasya pada tahun 1805, dan memerintah Mesir sampai dengan tahun 1848. Percetakan yang pertama didirikan di Mesir awalnya ditentang para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi.Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan.Muhammad Ali mendirikan beberapa sekolah teknik dengan guru-guru asing.Ia mengirim lebih dari 400 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. di beberapa wilayah Arab lain, seperti Oman dan Aljazair, upaya peng-Islaman informasi sosial serupa tampak di TurkiUsmani
Dalam
situasi seperti ini, ketika teknologi muslim jauh tertinggal dari Eropa dan
usaha mengejar ketertinggalan ini dilakukan muslim memberikan tanggapan dalam
dua hal, yaitu merumuskan sikap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi peradaban Barat modern, dan terhadap tradisi Islam. Kedua unsur ini
sampaikinimasihmewarnaipemikiranmuslimhinggakini.
Di Timur maupun Barat, pada hakekatnya mengakui akan adanya hubungan yang spesial antara Islam dan ilmu pengetahuan. Walaupun latar belakang dari kedua kelompok ini memiliki pokok persoalan berbeda, yakni yang satu dilandaskan kepada kepercayaan, sedang yang lain kepada rasio dan akal sehat, namun hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan tidaklah antagonistik tapi justru saling menguatkan. Sejak dari semula, yaitu ketika wahyu pertama diturunkan dengan kata-kata yang tidak lain dari: Baca (Iqra’), sampai kepada wahyu terakhir, ketika Allah telah menyempurnakan Islam itu sebagai agama yang terakhir, sikap Islam terhadap ilmu sangatlah positif dan konsisten sekali. Tidak ada satu ayat pun dari Al-Qur’an maupun ucapan Nabi sendiri yang memperlihatkan antagonisme antara iman dan ilmu.
Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pengetahuan dalam kedudukan yang demikian tinggi, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Dr. Muhammad Ijazul Khatib dari Universitas Damaskus, tidak kurang dari 750 ayat, atau seperdelapan dari seluruh ayat yang menyuruh orang-orang mukmin untuk berfikir, mempergunakan penalaran dengan sebaik-baiknya, melakukan intizar (penyelidikan sistematik dan mendalam) tentang rahasia-rahasia alam semesta ini, dan menjadikan kegiatan-kegiatan ilmiah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat. Betapa tingginya penghargaan yang diberikan oleh Al-Qur’an kepada ilmu dapat dilihat dengan memperbandingkan bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum yang mengatur segi-segi kehidupan umat hanyalah sepertiga dari pada ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu.Rasulullah sendiri telah memberikan julukan “Pewaris para Nabi” kepada mereka yang berilmu.Al-Qur’an bahkan menekankan keunggulan orang yang berilmu daripada yang tidak berilmu. Seperti dalam firman Allah dalam surat Az-Zumarayat9:
Artinya:
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(Q.S.Az-Zumar:9)
Di Timur maupun Barat, pada hakekatnya mengakui akan adanya hubungan yang spesial antara Islam dan ilmu pengetahuan. Walaupun latar belakang dari kedua kelompok ini memiliki pokok persoalan berbeda, yakni yang satu dilandaskan kepada kepercayaan, sedang yang lain kepada rasio dan akal sehat, namun hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan tidaklah antagonistik tapi justru saling menguatkan. Sejak dari semula, yaitu ketika wahyu pertama diturunkan dengan kata-kata yang tidak lain dari: Baca (Iqra’), sampai kepada wahyu terakhir, ketika Allah telah menyempurnakan Islam itu sebagai agama yang terakhir, sikap Islam terhadap ilmu sangatlah positif dan konsisten sekali. Tidak ada satu ayat pun dari Al-Qur’an maupun ucapan Nabi sendiri yang memperlihatkan antagonisme antara iman dan ilmu.
Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pengetahuan dalam kedudukan yang demikian tinggi, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Dr. Muhammad Ijazul Khatib dari Universitas Damaskus, tidak kurang dari 750 ayat, atau seperdelapan dari seluruh ayat yang menyuruh orang-orang mukmin untuk berfikir, mempergunakan penalaran dengan sebaik-baiknya, melakukan intizar (penyelidikan sistematik dan mendalam) tentang rahasia-rahasia alam semesta ini, dan menjadikan kegiatan-kegiatan ilmiah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat. Betapa tingginya penghargaan yang diberikan oleh Al-Qur’an kepada ilmu dapat dilihat dengan memperbandingkan bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum yang mengatur segi-segi kehidupan umat hanyalah sepertiga dari pada ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu.Rasulullah sendiri telah memberikan julukan “Pewaris para Nabi” kepada mereka yang berilmu.Al-Qur’an bahkan menekankan keunggulan orang yang berilmu daripada yang tidak berilmu. Seperti dalam firman Allah dalam surat Az-Zumarayat9:
Artinya:
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(Q.S.Az-Zumar:9)
Selama
sains atau ilmu pengetahuan itu tetap dalam upaya untuk mencari kebenaran dan
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam alam ini, tidak akan pernah ada masalah.
Karena Islamlah yang pertama-tama akan mengajak dan menggalakkan manusia untuk
mengungkapkan rahasia-rahasia alam itu serta mengambil manfaat dari padanya.
Problematika kita bukanlah antara Islam dan ilmu pengetahuan (karena kaitannya
jelas dan gamblang) tetapi antara muslim atau penganut Islam itu dan ilmu
pengetahuan.
Setidaknya sejak dasawarsa 1970-an hingga sekitar awal 1990-an, berkembang sebuah wacana baru tentang Islam dan ilmu pengetahuan, dengan munculnya gagasan Islamic science (ilmu pengetahuan Islam) atau Islamization of knowledge (Islamisasi ilmu). Terlepas dari siapa yang pertama menggunakan istilah ini, dalam kenyataannya cukup beragam (kelompok) pemikir muslim yang memaknai istilah ini dengan berbeda-beda, bahkan tidak jarang terdapat pertentangan pendapat. Karena yang lebih populer adalah istilah dalam bahasa Inggris itu, ada beberapa hal penting dan menarik untuk dicatat dalam kaitanya dengan penggunaan kata ilmu pengetahuan atausains,Islamisasi,dankataIslamicdalamIslamicscience.
Pertama, perkembangan berbagai istilah ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapkan ilmu pengetahuan modern kepada perkembangan intelektual Islam.Seperti telah dipaparkan di atas, sebetulnya hal ini telah dimulai sejak akhir abad ke-19. Namun, tidak efektifnya usaha mengejar ketertinggalan muslim dari Barat di masa lalu, pada perkembanganya hal tersebut mengkerucut dan mengkristal menjadigerakandenganorientasibarupadabeberapakelompok.
Kedua, munculnya istilah baru, Islamic science dan Islamization of knowledge nyatanya hanya tampak sebagai baju baru dari usaha yang telah dilakukan olehbeberapapemikirdimasasebelumnya.
Istilah sains (science) sendiri baru mendapatkan maknanya yang khas dalam perkembangan kegiatan ilmiah di dunia Barat sejak beberapa abad. Di sana sains dianggap sebagai model cabang ilmu yang paling unggul, karena perkembangannya yang paling pesat dibandingkan cabang-cabang ilmu lain. Adalah anggapan tersebut yang melatar belakangi kebiasaan bahasa Inggris modern yang berbeda dengan kebanyakan bahasa lain. Untuk membedakan science, sebagai istilah yang dipakai untuk ilmu pengetahuan alam atau eksakta (pasti), dari berbagai cabang ilmu pengetahuan lain, terutama ilmu-ilmusosialdanhumaniora.
Setidaknya sejak dasawarsa 1970-an hingga sekitar awal 1990-an, berkembang sebuah wacana baru tentang Islam dan ilmu pengetahuan, dengan munculnya gagasan Islamic science (ilmu pengetahuan Islam) atau Islamization of knowledge (Islamisasi ilmu). Terlepas dari siapa yang pertama menggunakan istilah ini, dalam kenyataannya cukup beragam (kelompok) pemikir muslim yang memaknai istilah ini dengan berbeda-beda, bahkan tidak jarang terdapat pertentangan pendapat. Karena yang lebih populer adalah istilah dalam bahasa Inggris itu, ada beberapa hal penting dan menarik untuk dicatat dalam kaitanya dengan penggunaan kata ilmu pengetahuan atausains,Islamisasi,dankataIslamicdalamIslamicscience.
Pertama, perkembangan berbagai istilah ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapkan ilmu pengetahuan modern kepada perkembangan intelektual Islam.Seperti telah dipaparkan di atas, sebetulnya hal ini telah dimulai sejak akhir abad ke-19. Namun, tidak efektifnya usaha mengejar ketertinggalan muslim dari Barat di masa lalu, pada perkembanganya hal tersebut mengkerucut dan mengkristal menjadigerakandenganorientasibarupadabeberapakelompok.
Kedua, munculnya istilah baru, Islamic science dan Islamization of knowledge nyatanya hanya tampak sebagai baju baru dari usaha yang telah dilakukan olehbeberapapemikirdimasasebelumnya.
Istilah sains (science) sendiri baru mendapatkan maknanya yang khas dalam perkembangan kegiatan ilmiah di dunia Barat sejak beberapa abad. Di sana sains dianggap sebagai model cabang ilmu yang paling unggul, karena perkembangannya yang paling pesat dibandingkan cabang-cabang ilmu lain. Adalah anggapan tersebut yang melatar belakangi kebiasaan bahasa Inggris modern yang berbeda dengan kebanyakan bahasa lain. Untuk membedakan science, sebagai istilah yang dipakai untuk ilmu pengetahuan alam atau eksakta (pasti), dari berbagai cabang ilmu pengetahuan lain, terutama ilmu-ilmusosialdanhumaniora.
Perkembangan
teknologi sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan ini juga amat memukau
banyak orang, tidak terkecuali umat Islam. Sebagai akibat dari fenomena itu,
sebagian ilmuwan muslim hanya berusaha mengejar ketertinggalan umat Islam
dengan mengambil alih secara menyeluruh teknologi dan ilmu pengetahuan Barat
modern. Namun, sebagian lain tidak puas dengan sikap itu dan menuntut
Islamisasi ilmu pengetahuan atau pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Para
penggagas ilmu pengetahuan Islam atau Islamisasi memulai argumennya dari premis
bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai.Karena itulah nilai-nilai sebuah
agamadapatmasukdalampembicaraantentangilmupengetahuan.
Jelas bahwa ilmu pengetahuan Islam adalah sebuah istilah modern.Kita tak bisa menemukan padanan istilah ini dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam masa yang disebut Zaman Keemasan Islam.Bahkan, bisa jadi istilah ini digunakan pertama kali oleh kaum orientalis ketika kajian-kajian orientalisme modern dimulai akhir abad yang lalu. Pada tahun 1920-an, misalnya, sejarawan ilmu pengetahuan George Sarton dalam karya monumentalnya menggunakan istilah ini untuk menyebut sebuah periode dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ketika dengan dukungan penguasa, para ilmuwan muslim (dan sebagian kecilnya adalah non-muslim) menghasilkan karya-karya besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Orientalis George Anawati bahkan menyebutkan adanya upaya-upaya “Islamisasi” cabang-cabang ilmu yang diperoleh terutama dari tradisi Yunani itu.Ia juga menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan alam adalah bidang yang paling sedikit terkena Islamisasi dibandingkan dengan,misalnya,metafisika.
Jadi, di sini istilah Islami digunakan untuk menyebut dua hal sekaligus: yang pertama adalah suatu periode sejarah, sebagaimana istilah modern, abad pertengahan, klasik atau Yunani digunakan; yang kedua, suatu aktivitas yang disusupi nilai-nilai Islam. Kedua makna ini kerap muncul dalam perbincangan kontemporer tentang ilmu pengetahuanmoderndanIslam.
Empat pemikir muslim kontemporer yang dapat mewakili wacana baru ini adalah Syed Hossein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar. Bukanlah suatu kebetulan jika keempatnya terdidik di universitas-universitas Amerika dan Eropa dan terutama menulis dalam bahasa Inggris.Wacana baru ini memang berkembang terutama di kalangan komunitas intelektual Islam berbahasa Inggris, yang baru muncul secara jelas setelah paruh pertama abad ke-20 in
Jelas bahwa ilmu pengetahuan Islam adalah sebuah istilah modern.Kita tak bisa menemukan padanan istilah ini dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam masa yang disebut Zaman Keemasan Islam.Bahkan, bisa jadi istilah ini digunakan pertama kali oleh kaum orientalis ketika kajian-kajian orientalisme modern dimulai akhir abad yang lalu. Pada tahun 1920-an, misalnya, sejarawan ilmu pengetahuan George Sarton dalam karya monumentalnya menggunakan istilah ini untuk menyebut sebuah periode dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ketika dengan dukungan penguasa, para ilmuwan muslim (dan sebagian kecilnya adalah non-muslim) menghasilkan karya-karya besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Orientalis George Anawati bahkan menyebutkan adanya upaya-upaya “Islamisasi” cabang-cabang ilmu yang diperoleh terutama dari tradisi Yunani itu.Ia juga menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan alam adalah bidang yang paling sedikit terkena Islamisasi dibandingkan dengan,misalnya,metafisika.
Jadi, di sini istilah Islami digunakan untuk menyebut dua hal sekaligus: yang pertama adalah suatu periode sejarah, sebagaimana istilah modern, abad pertengahan, klasik atau Yunani digunakan; yang kedua, suatu aktivitas yang disusupi nilai-nilai Islam. Kedua makna ini kerap muncul dalam perbincangan kontemporer tentang ilmu pengetahuanmoderndanIslam.
Empat pemikir muslim kontemporer yang dapat mewakili wacana baru ini adalah Syed Hossein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar. Bukanlah suatu kebetulan jika keempatnya terdidik di universitas-universitas Amerika dan Eropa dan terutama menulis dalam bahasa Inggris.Wacana baru ini memang berkembang terutama di kalangan komunitas intelektual Islam berbahasa Inggris, yang baru muncul secara jelas setelah paruh pertama abad ke-20 in
C. Apresiasi
atau penghargaan
Apresiasi
Islam terhadap IlmuUmat Islam pernah mengalami masa kejayaan. Hodgson
menyatakan bahwa masa kemajuan Islam di dorong oleh ayat yang berbunyi ; kamu
adalah umat yang terbaik yang menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan segala
keburukan(Q.S. al-Imran, 110). Melalui kemajuan ilmu pengetahuan ini umat Islam
pernah mengalami kejayaan beberapa abad pada masa yang lalu.Ajaran Islam
pertama kali turun adalah ajaran membaca—iqra’ lengkap-nya ayat itu berbunyi :
Iqra’ bismirabbika alladzî khalaq (Q.S. al-‘Alaq, 1) yang artinya bacalah
dengan nama Tuhanmu yang yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Kata
Iqra’ mengisyaratkan agar umat Islam membaca, membaca dan membaca sebagai
gerbang pengetahuan. Ayat itu diteruskan bacalah dengan nama Tuhanmu melalui
perantaraan qalam.
Qalam
berarti pena atau alat menulis; artinya umat Islam setelah membaca, menulis
apa-apa yang dia baca; ini menggambarkan semangat untuk menggali dan
mengembang-kan ilmu pengetahuan. Kemudian pentingnya ilmu pengetahuan dalam
sebuah Hadist diisyarat-kan bahwa apabila seorang ingin jaya di dunia tentu
dengan ilmu, apabila ia ingin berjaya di akherat juga dengan ilmu, tetapi
apabila ingin berjaya kedua-duanya hendaklah dengan ilmu.Dalam ayat al-Qur’an
yang lain disebutkan bahwa orang yang memiliki ilmu akan diangkat beberapa
derajat. Seperti ayat yang berbunyi: Yarfa’illah alladzîna âmanû minkum wa
alladzîna ûtû al-‘ilma darajãt artinya Allah mengangkat derajat orang yang
beriman dan berilmu dalam berbagai derajat (Q.S. al-Mujadilah, 11). Ayat ini
berlaku untuk semua orang apakah ia seorang Muslim atau tidak apabila ia
memiliki ilmu ia akan memperoleh derajat yang lebih tinggi.
Pentingnya
ilmu ini di dalam Islam bahkan seorang menuntut ilmu melebihi seorang ahli
ibadah sekalipun. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang sedang
mengkaji ilmu pengetahuan pahalanya melebih orang yang beribadah sepanjang
malam.Dalam Islam isyarat membedakan pentingnya ilmu agama daripada ilmu umum
tidak ditemukan.Dalam Islam hanya menggambarkan tidak semua orang perlu pergi
berperang, tetapi hendaklah ada sebagian orang Islam yang belajar “ilmu agama”
(fuqaha) (Q.S. al-Taubah, 122). Dengan demikian agama Islam tidak mengajarkan
bahwa ilmu agama lebih penting dari ilmu umum atau ilmu lainnya.Tentang
teknologi menurut Quraish Shihab ada sekitar 750 ayat al-Qur’an yang berbicara
tentang alam materi dan fenomenanya, yang termasuk katagori teknologi. Sebab menurutnya
teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam
bagi kesejahteraan dan Kenya-manan manusia. Antara lain ayat-ayat berikut yang
artinya: Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada
di bumi semuanya (sebagai anugerah) dari-Nya (Q.S. al-Jatsiyah, 13). Kemudian
ayat berikut: Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran (Q.S. al-Ra’d, 8).
Kemudian ayat lain lagi menyatakan: Kemudian Dia menuju kepada penciptaan
langit dan langit ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepada-Nya,
“Datang-lah(tunduklah) kamu berdua (langit dan bumi) menurut perintah-Ku suka
atau tidak suka!” Mereka berdua berkata, Kami datang dengan suka hati” (Q.S.
Fushshilat, 11)
7
Dalam sejarah Islam ilmu pengetahuan mengalami
kemajuan yang sangat pesat dalam waktu sekitar 5 abad lebih, bersamaan dengan
itu orang-orang Barat berada di alam kegelapan atau kebodohan.Ilmu pengetahuan
dalam Islam berkembang secara pesat pada masa Banî Umayyah dan Banî
Abbasiyah.Berkembangnya ilmu pengetahuan ini didahului oleh penerjemahan
buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab yang berpusat di Bayt al-Hikmah di
Baghdad.Ilmi-ilmu yang dicakup dalam perkembangan ini adalah ilmu kedokteran,
matematika, fisika, mekanika, botanika, optika, astronomi di samping filsafat
dan logika.Karya yang diterjemahkan adalah karangan Galinos, Hipokrates,
Ptolemeus, Euclid, Plato, Aristoteles dan lain-lain. Buku-buku itu dipelajari
oleh ulama-ulama Islam dan mengalami perkembangan di bawah khalîfah-khalîfah Banî
Umayyah dan Banî Abbasiyah antara lain ilmu hitung, ilmu ukur, aljabar, ilmu
falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu alam, ilmu bumi, ilmu sejarah di
samping bahasa dan sastra arab.
Cendikiawan
Muslim pada masa kemajuan Islam bukan hanya menguasai ilmu dan filsafat yang
mereka peroleh dari peradaban Yunani tetapi mereka kembangkan ke dalam
penyelidikan hasil-hasil mereka sendiri dalam berbagai bidang ilmu. Pada masa
ini berkembang universits-universitar termasyhur di dunia yakni universitas
Qordoba di Andalusia, Universitas di Salamanka dan universitas di berbagai kota
lainnya sebagai tempat menuntut ilmu bagi kalangan Nasrani yang berasal dari
berbagai negara Eropa.Ilmu yang sangat menarik bagi khalîfah adalah ilmu
kedokteran. Ali bin Rabba al-Thabary pada tahun 850 mengarang Firdaus al-Hikmah
adalah dokter pertama terkenal dalam Islam. Abu bakar Muhammad bin Zakaria
al-Razi pada tahun 865 yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes ia mengepalai
rumah sakit di Baghdad dan menyusun ensiklopedi ilmu kedokteran yang berjudul
Kitab al-Thib al-Manshûri dan al-Hawi yang diterjemahkan dalam bahasa latin
dengan nama Liber al-Mansoris dan Continens.
Begitu
pula Ibnu Sina (Avicenna) bukunya al-Qanûn fî al-Thib diterjemahkan ke dalam
bahasa latin dengan nama Canon dan Ibnu Rusyd bukunya berjudul al-Kulliyât fî
al-Thib diterjemahkan dengan nama Colliget.Dalam astronomi, astronom-astronom
Islam di kenal di Eropa antara lain al-Faraganus (Abu al-‘abb al-Farghani dan
al-Battegnius (Muhammad bin Jabr al-Battani). Mengenai sistem Heliosentris,
al-Biruni pernah menulis buku tentang hal itu, dan Abu Said al-Sijri membuat
astrolab atas dasar teori bumi berputar sekeliling bulan. Dalam ilmu optika
dapat disebut nama Abu Ali Hasan bin al-Haytsam di Eropa menjadi al-Hazem
bukunya berjudul al-Manâzib diterjemahkan dalam bahasa latin tahun 1572 M.
Dalam bukunya dia berteori bahwa bendalah yang mengirim cahaya ke mata bukan
sebaliknya. Dari proses pengiriman cahaya itulah timbul gambaran benda dalam
mata. Dalam bidang geografi dapat di sebut nama Abu al-Hasan al-Masudi,
pengarang buku Muruj al-Dzahab dan Ma’din al-Jauhar, menjelajah dunia yang
dikenal pada zamannya dan datang ke Timur sampai kepulauan Indonesia.
Ulama-ulama
Islam meninggalkan pula buku-buku dalam ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan,
antropologi dan geologi.Al-Jahiz dalam bukunya Kitab al-Hayyawan yang berbicara
tentang evolusi dan antropologi. Dengan diterjemahkannya buku ilmiah karangan
ilmuan Islam tersebut ke dalam bahasa latin, ilmu pengetahu-an diambil oleh orang
Eropa, ketika umat Islam mengalami kemunduran dalam sejarah kebudayaannya.
Dekade kemunduran ilmu dan sains datang. Sejalan dengan kemajuan ilmu Islam
tersebarnya ke berbagai penjuru dunia, pemikiran dalam mengem-bangkan ilmu
pengetahuan agama seperti ilmu fiqh, tafsir, hadits, tauhid mengalami kemajuan
pesat, sementara pengetahuan umum seperti kedokteran, astronomi dan lainnya
mengalami kemunduran.Pemikiran–pemikiran keagamaan memproleh penghargaan yang
tinggi dan menjadikan seseorang terhormat, sementara penguasaan orang terhadap
ilmu non agama tidak mendapatkan tempat. Pada masa ini pula ditandai oleh pola
perilaku raja-raja Islam yang tidak sesuai dengan norma Islam yang hidup
bermewah-mewah, menyebabkan banyak orang Islam menghindari kehidupan dunia dan
pergi menyendiri atau belajar agama untuk memperbaiki keadaan.
Pemerintah
yang berdasarkan keturunan cenderung diperebutkan antara satu anak keturunan
dengan keturunan lainnya. Kemudian, masyarakat disibukkan dengan diskursus
masalah-masalah ketuhanan, apakah Tuhan dominan dalam menentukan nasib manusia
atau sebaliknya atau akallah penentu segala-galanya dan yang lain berpandangan
tidak. Pemikiran Asy’ari, Mu’tazilah dan pemikiran lainnya mewarnai jagad ilmu
saat itu.Di tengah kondisi ini negara-negara Islam saling menyerang atau antara
satu keturunan raja dengan yang lainnya saling bermusuhan, umat Islam sudah
jauh dari norma-norma Islam, generasi mudanya yang bakal menjadi ulama sangat
mengagung-agungkan filsafat helenisme, sehingga muncul diskursus antar mereka
yang sering menimbulkan ketegangan.
Melihat fenomena itu banyak ilmuan Islam yang
mendalam ilmu tashawuf—dan memandang pentingnya mendalami ajaran agama, untuk
membawa umat Islam mendekatkan diri pada al-Khaliq.Al-Ghazali salah seorang
ilmuan terkenal mengarang buku Ihya ‘Ulûmuddîn yang berteori bahwa menuntut
ilmu agama merupakan kewajiban ‘ain sementara menuntut ilmu non agama merupakan
wajib kipâyah. Sehingga melalui salah satu teori al-Ghazali ini telah
mempengaruhi frame atau mainset berfikir umat dan berkembanglah ilmu agama
Islam, sejalan dengan itu ilmu non agama mengalami kemunduran. Padahal, di
dalam Islam tidak ada pemisahan antara al-dîn dan al-‘ilm.Ilmu dalam keadaan
demikian ilmu yang memiliki kaitan dengan masalah-masalah asal-usul,
pertumbuhan dan berjalan manusia dengan orientasi tran-sendental dan dengan
nilai-nilai rohani. Hasan Abd al-‘Ala berpendapat bahwa dengan cara yang
memisahkan antar ilmu dan agama dari sudut pandang di atas jelas keliru.
Sebagai
konsekuensi dari tidak adanya pemisahan antar ilmu dan agama, dapat pula
ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara apa yang disebut dengan ilmu agama
dan ilmu umum. Munir Mursi menyatakan bahwa seluruh ilmu adalah islami
sepanjang berada dalam batas-batas yang digariskan Allâh kepada kita.Hanya saja
memang harus diakui bahwa menurut Muhammad Said Ramadan bahwa ilmu itu ada ilmu
ilahi, ialah ilmu yang memberikan manusia pengetahuan yang menyeluruh dan
lengkap (al-Ma’rifah al-Kâmilah al-Samilah), ilmu-ilmu itu hanya terwujud
melalui kitab Allâh. Hanya para Nabî dan Rasûl yang dapat memperoleh ilmu ilahi
secara sempurna.Ada pula ilmu atas hasil kreasi manusia yang bersifat nisbi
seperti kimia, biologi, kedokteran dan lainnya. Kenisbian ilmu manusia ini
didasari oleh alasan-alasan berikut:
Pertama,
adanya keterbatasan perangkat-perangkat pengetahuan yang diberi-kan Tuhan
kepada manusia. Kedua, indra, akal dan ruh yang dimiliki manusia adalah media
terbatas baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Ketiga, keterbatasan kawasan
yang dapat ditangkap perangkat tersebut mengingat manusia hanya dapat menangkap
sesuatu yang sifatnya materi yang tidak meliputi alam ghaib.Keempat, ilmu yang
diperoleh dan ditampung manusia juga terbatas.Oleh karena itu, kenisbian ilmu
manusia harus selalu dikonfirma-si dengan sumbernya yaitu kebenaran mutlak yang
dicakup ilmu Tuhan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan yang nisbi harus
dihubungkan dengan ilmu ilahi agar menuju kepada kesatuan ilmu, sesuai dengan
kesatuan Tuhan. Dengan demikian ilmu yang harus dikuasai menurut pandangan
Islam adalah segala ilmu yang dapat membawanya menuju iman kepada Allâh, dalam
kaitan inilah Islam memasukkan pancaran ilmu sebagai amalan yang sangat
terhormat, bahkan sebagian dari ibadah.
BAB III
KESIMPULAN
Penghargaan terhadap Ilmu Agama Islam bersumber dari
wahyu Allah Swt, sedangkan ilmu pengetahuan bersumber dari pikiran manusia yang
disusun berdasarkan hasil penyelidikan alam, yang bertujuan mencari kebenaran ilmiah.
IPTEK dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan manusia dalam rangka mencapai
kesejahteraan hidup di dunia dan memberi kemudahan pada peningkatan Ubudiyah
kepada Allah.
IPTEK dalam Islam juga sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban manusia sebagai makhluk Allah yang berakal. Penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi sekali karena hal ini merupakan cerminan penghargaan bagi manusia itu sendiri. Penghargaan ini dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya:
IPTEK dalam Islam juga sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban manusia sebagai makhluk Allah yang berakal. Penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi sekali karena hal ini merupakan cerminan penghargaan bagi manusia itu sendiri. Penghargaan ini dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya:
1.
TurunnyawahyupertamakepadaRasulullahSaw (Al Alaq:1–5)
2.
Banyaknya ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal,
pikiran,danpemahaman(AlBaqarah:44)
3.
Allah Swt memandang rendah orang-orang yang
tidak mau menggunakan potensi akalnya sehingga mereka disederajatkan dengan
binatang, bahkan lebih rendah lagi (Al A’raaf:179)
4.
Allah memandang lebih tinggi derajat orang-orang yang berilmu (Az Zumar : 9 dan
Al Mujadilah:11)
5.
Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang yang melakukan sesuatu
tidak berdasarkanilmu(AlIsraa:36)
6.
Pemahaman terhadap ajaran agama harus berdasarkan ilmu (Ali Imran:18)
7.
Dalam menentukan orang-orang pilihan yang menjadi Khalifah di muka bumi ini
Allah melihatsisikeilmuannya(AlBaqarah:247).
8.
Allah menganjurkan kepada seorang yang beriman untuk sentiasa berdo'a bagi
pertambahankekuasaanilmunya(Thaha:114)
Menuntut ilmu
adalah bagian yan sangat penting dari pengamalan ajaran Islam yang menunjukkan
seseorang pada jalan kehidupan yang memberikan keyakinan. Ilmu yang diperlukan
bagi pembangunan masyarakat yang pemanfaatannya dapat meningkatkan kemampuan
produksi dalam berbagai sektor kehidupan, sehingga Islam mewajibkan untuk
menuntuti ilmu, baik secara pribadi maupun kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Karim, Nashir Al-Aql, Gerakan Dakwah Islam, Darul Haq, 2003.
Iskandar, Noer Al-Barsany, Biografi dan Garis besar Pemikiran Kalam Ahlussunnah Waljama`ah, Raja Grafindo Persada, 2001.
Hanafi, A, Pengantar Teologi Islam, Pustaka Al-Husna Baru, 2003.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran sejarah Analisa Perbandingan, UI-Pers, 2008.
Abdul Karim, Nashir Al-Aql, Gerakan Dakwah Islam, Darul Haq, 2003.
Iskandar, Noer Al-Barsany, Biografi dan Garis besar Pemikiran Kalam Ahlussunnah Waljama`ah, Raja Grafindo Persada, 2001.
Hanafi, A, Pengantar Teologi Islam, Pustaka Al-Husna Baru, 2003.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran sejarah Analisa Perbandingan, UI-Pers, 2008.