Hubungan Aliran-Aliran
diIndonesia
Ilmu Kalam
Disusun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dosen Pembimbing :Asna
Andriani, SS. M.Hu
Disusun Oleh :
2. Arsad
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (2-A)
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
MARET 2016
KATA PENGANTAR
Alkhamdulilah
puji sukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT atas rohmat,karunia,taufik dan
hidayah-Nya. Kami menyelesaikan makalah dengan judul Ilmu Kalam kajian atas
hubungan Aliran Aliran diIndonesia. Dan rasa terimakasih pun tidak lupa kami ucapkan kepada :
1.
Bapak
Nurul Amin, M.Ag selaku Kepala Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah
Tulungagung.
2.
Ibu
Asna Andriani, SS. M. Hum
Penulis
menyadari betul bahwa masih banyak terdapat sekali kekurangan dalam penyusunan
makalah ini . Untuk itu kami memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan dimasa depan. Disamping itu penulis juga berharap semoga materi yang
dipaparkan dalam makalah ini, dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis
khususnya.
Tulungagung
, 10 Maret 2016
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ……………………………………………………………………………………………. I
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………………………. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah…………………………………………………………………………. I
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………. I
C.
Tujuan Pembahasan………………………………………………………………………………. I
BAB II PEMBAHASAN
1.
Hubungan Aliran –Aliran diIndonesia
A.
Munculnya Aliran Aliran Teologi dalam Islam …………………………………….. 2
B.
Sejarah dan macam-macamnya ………………………………………………………… 5
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………. 12
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………………………….. 13
Iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang :
Sebagaimana diketahui
membahas ajaran-ajaran dari suatu agama.Setiap orang ingin menyelami seluk
beluk agamanya secara mendalam yang terdapat dalam agama yang dianutnya.
Mempelajari Aliran-Aliran akan memberi
seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat yang tidak
mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman. Dalam Alqur`an pun sudah dijelaskan
untuk mendalami agama secara penuh,” Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu
kedalam islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam istilah arab
ajaran-ajaran dasar itu disebut usul Addin dan oleh karena itu buku yang
membahasa soal-soal Aliran dalam islam selalu diberi nama kitab Usul Addin oleh
para pengarangnya. Ajaran-ajaran itu disebut jjuga `Aqa`id atau keyakinan. Dan
agama itu tidak akan lurus kecuali didasari dengan aqidah yang benar dan amal
yang shahih. Hal itu dapat terealisasikan dengan berpegang teguh kepada kitab
sici Al-Qur`an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
B.
Rumusan Masalah
1
Hubungan Aliran-Aliran diIndonesia
2
Munculnya aliran-aliran Teologi dalam Islam
3
Sejarah dan Macam –macamnya
C.
Tujuan
a.
Menjelaskan munculnya aliran –aliran dalam Islam
b.
Menjelaskan sejarah dan macam-macamnya
BAB II
PEMBAHASAN
A.Munculnya aliran-aliran Teologi dalam Islam
Teologi, sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dari
suatu agama.Setiap orang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam
yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi
seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat yang tidak
mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman. Dalam Alqur`an pun sudah dijelaskan
untuk mendalami agama secara penuh,” Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu
kedalam islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam istilah arab
ajaran-ajaran dasar itu disebut usul Addin dan oleh karena itu buku yang
membahasa soal-soal teologi dalam islam selalu diberi nama kitab Usul Addin
oleh para pengarangnya. Ajaran-ajaran itu disebut jjuga `Aqa`id atau keyakinan.
Dan agama itu tidak akan lurus kecuali didasari dengan aqidah yang benar dan
amal yang shahih. Hal itu dapat terealisasikan dengan berpegang teguh kepada
kitab sici Al-Qur`an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
Teologi dalam islam disebut
juga `Ilmu At-tauhid. Kata tauhid mengandung arti satu atau Esa. Ke-Esa-an yang
dalam pandangan islam, sebagai agama yang monoteisme, merupakan sifat yang
terpenting diantara sifat-sifat tuhan. Selanjutnya teologi islam disebut juga
Ilm Kalam. Kalam adalah kata-kata, maka yang dimaksud kalam ialah sabda Tuhan.
Akhir-akhir ini banyak sekali aliran-aliran islam, khususnya
di Indonesia. Seperti contoh aliran Ahmadiyah, yang oleh kelompok islam garis
keras dihancurkan tempat peribadatannya dan oleh MUI dikatakan sebagai aliran
sesat. Dan apakah seperti itu yang bias disebut aliran teologi dalam islam.
Ternyata tidak semudah itu untuk disebut sebagai teologi Islam. Sebelum kita
membahas lebih lanjut, kita akan membahas dulu tentang pengertian teologi
Islam.
Ada banyak sekali pengertian
mengenai teologi Islam menurut beberapa pemikir. Diantaranya dari Fergilius
Ferm yaitu seorang ahli Ilmu agam,a mengatakan : The disclipine which concern
god (or the Deviniti Reality) and Gods relation to the world (teologi ialah
pemikiran sistematis yang berhubungan dengan alam semesta). Tetapi kita harus
membahas dulu menurut segi Etimologi atau bahasa maupun Terminologi atau
Istilah.Teologi terdiri atas dua kata yaitu Theos yang artinya tuhan dan liogos
tyang artinya Ilmu. Jadi teologi bias disebut juga dengan Ilmu tuhan atau
disebut ilmun ketuhanan. [1]
Dalam kamus New English
Dictinary juga menerangkan tentang teologi yang diseusun oleh Collins sebagai
berikut : the science which treats of the facts and phenomena of religion and
the relation between God and men ( ilmu yang yang membahas fakta-fakta dan
gejala-gejala agama serta hubungan-hubungan antara tuhan dan manusia). Jadi
secara garis besaa teologi adalah ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari
suatu agama.
Setiap manusia pastilah ingin
menetahui lebih dalam tentang seluk beluk agamanya sehingga tidak mudah goyang
ketika muncul aliran-aliran baru yang mungkin akan timbul dikemudian hari. Dan
mereka dapat mempunyai keyakinan-keyakinan uyang berdasarkan pada landasan yang
kuat sehingga tidak menjadi seorang yang taqlid buta.
2
Islam adalah agama yang sebenarnya mempunyai sebuah pegangan
beragama yaitu Al-Qur`an dan Hadits. Dalam segala persoalan Al-Qur`an dan
Hadits rosul dapat menjelaskan dan menyelesaikan persoalan tersebut. Baik dalam
bidang social bermasyarakat atau bermuamalat, bidang politik, ekonomi dan
apaloagi soal keyakinan atau tauhid. Akan tetapi untuk menjawab persoalan
tersebut, Al-Qur`an masih harus dipelajari denagn sangat lebih dalam karena
masih banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang menerangkan sesuatu secara global dan
belun terperinci.Al-Qur`an dan hadits Nabi sendiri banyak berisi pembicaraan
tentang wujud tuhan, keagunagn tuhan dan Ke-Esa-AnNya. Dalam Aql-Qur`an sendiri
juga banyak menyebutkan tentang sifat-sifat tuhan, yang mana sebagian bertalian
dengan dzat Tuhan sendiri dan sebagian lagi menyatakan semacam hubungan dengan
makhluk-Nya, seperti Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha memberi Rizqi dan lain
sebagainya.
Tetapi anehnaya, persoalan
yang pertama kali muncul bukanlah tentang tauhid atau teologi, melainkan dalam
bidang politik. Dan persoalan dalam bidang politik tersebutlah yang menjadi
suatu embrio perpecahan umat yang akhirnay mengantarkan kepada munculnya
berbagai aliran-aliran teologi dalam islam. Oleh karena itu awal mula
munculnnya aliran-aliran teologi dalam islam tidaklah begitun jelas. Karena
m,unculnya aliran teologi tersebut melalui beberapa fase. Dan selama kurang
lebih 3 abad lamanya melakukan perdebatan, baik antara sesame maupun dengan
lawan-lawan dan pemeluk agama lain, kaum muslimin ssampaikepada ilmu yang
mejeloaskan dasar-dasar aqidahnya dan jugaa perinci-perinciannya.
Al-Qur`an sendiri sangat
menyarankan umat islam untuk memakai akal pikirannya. Dan juga memperhatikan
alam semesta ini dengan panca indra yang dimilikinya. Oleh Karen itu, untukn
urusan beragama islam dengan keras mencela seorang yang beragama yang hanya
taqlid buta atau ikut-ikutan tentang soal-soal kepercayaan agama. Oleh karena
itu umat muslim harus benar-benar melepaskan akal pikirannyauntuk menggali
kandungan isi Al-Qur`an dan sunnah Rosul. Pada waktu Rosulullah masih hidup,
umat islam dapat menanyaka segala sesuatu persoalan atau kesulitan kepada
beliau akan tetapi setelah beliauy wafat mereka tidak bias menanyakannya
langsung kepada Riosulullahn. Melainkan kepada para penerus pemimpoin umat,
yang mana mereka harus dapat menggali isi Al`Qur`an denga akal pikiran dengan
tata cara yng bias dipertanggung jawabkan.
Setelah Rosulullah wafat,
muncullah persoalan politik dikalangan umat islam yaitu tentang Imamah
(pimpinan kaumn muslim berikutnya). Dan sejarah merwayatkan bahwa yang menjadi
pengganti (sebagain kepala Negara, bukan sebagai Nabi atyau rosul ) adalah Abu
Bakar. Dan itupun melalui sebuah perdebatan yag besar oleh para pemuda, sahabat
muhajirin dan sahabat anshor.kemudian abu Bakar digantikan oleh Umar Ibn
Khottab dan Umar digantikan oleh Utsman bin Affan.
Dalam pertengahan
pemerintahan, Kholifah Usman bin Affan tidak berdaya dalam menghadapi keluarga
beliau yang mempunyai ambisi untuk duduk dalam pemerintahan. Banyak keluarga
beliau yang menjadi gubernur di beberapa daerah kekuaasaan islam pada saat itu.
Dan akibat tindakan Khalifah Usman tersebut banyak para sahabat Nabi yang dulu
menyokong beliau sekarang menjauhi beliau.Yang akhirnya khalifah Usman wafat
karena dibunuh oleh para pemberontak dari Makkah. [2]
Setelah
khalifah Usman wafat, kekhalifahan digantikan oleh Ali. Dan belum lama
memerintah sebagai khalifah, Ali mendapatkan tantangan dari Aisyah, Talhah Dan
Zubair. Tetapi tantangn tersebut dapat diselesaikan dengn perang. Dan tantangn
berikutnya yaitu dari Mu`awiyah. Mu`awiyah menuduh bahwa Ali turut campur dalam
pembunuhan Khalifah Usman karena Muhammad Ibn Abi Bakar (pembunuh Usman) adalah
anak angkat dari Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali tidak mengambil tindakan
keras atas kasus tersebut.
Selanjutnya Khalifah Ali dan Mu`awiyah
melakukan peperangan di bukit siffin. Yang akhirnaya Khalifah Ali dapat
memojokkan Mu`awiyah. Akan tetapi karena kelicikan dari kelompok Muawiyah,
yaitu dengan mengangkat Al-Qur`an keatas (tanda-tanda perdamaian), kelompok Ali
pecah menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok yang setuju untuk berdamai deng
tetap ikut kepada khalifah Ali(Syiah) dan kelompok yang tidak ingin untuk
berdamai (Kawarij).
Demikianlah beberapa persoalan poliitk
yang akhirnya memicu terjadinya permasalahan teologi. Yaitu dimulainya
persoalan dosa besar karena membunu Khalifah Usman. Dan timbullah persoalah
siapa yang kafir dan siapa yang tidak kafir.dalam arti siapa yang masih dalam
islam dan siapa yang sudah keluar dalam islam. Dari sinilah awal muncul tiga
aliran teologi yaitu yang pertama, Aliran Khawarij yang mengatakan bahwa orang
yang berdosa besar adalah kafir (murtad) dan oleh karena itu wajib di bunuh.
Aliran yang kedua, yaitu Aliran Murji`ah
yang menegaskan bahwa orang yang melakukan dosa besar masih dikatakan mukmin,
adapun dosa yang dilakukan terserah Allah SWT. Aliran yang ketiga, yaitu Aliran
Mu`tazilah yang menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir dan
juga bukan mukmin, melainkan berada diantaranya (almanzilah bain almanzilah).
Dan demikianlah sebenarnya sebuah persoalan fiqh (pertalian dengan manusia)
yang mengantarkan menjadi masalah kepercayaan (teologi).
B.Sejarah dan macam-macamnya aliran
Terdapat penyebab yang beragam berkenaan dengan
kemunculan perbagai aliran dan mazhab dalam Islam. Di antaranya adalah
ketidakpedulian sekelompok umat Islam terhadap wasiat-wasiat dan ucapan
Rasulullah (s.a.w) berkenaan dengan masalah khilafah dan keimamahan Imam Ali
(a.s), masuknya para pemeluk agama lain di kalangan umat Islam, percampuran dan
pertukaran budaya dengan mereka, adanya jarak masa yang jauh antara umat Islam
dengan ajaran Islam yang sebenar dan pengetahuan terhadap peranan Ahlubait
(a.s), adanya pelarangan atas penulisan hadis-hadis Nabi (s.a.w) hingga
berlangsung satu abad lamanya, campur tangan-tangan jahil para khalifah Bani Umayyah dalam membuat
hadis-hadis palsu untuk memuji sebahagian sahabat yang munafik, adanya campur
tangan para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah dengan menciptakan
perselisihan mazhab di antara kaum muslimin dengan tujuan untuk menangkap ikan
di air keruh agar mereka tetap boleh mempertahankan kekuasaan mereka, kebodohan
umat dan terpengaruhnya mereka dengan berbagai propaganda busuk.[3]
Sudah tentu, bahwa sebahagian faktor itu sengaja
diciptakan untuk tujuan merobah dan menghancurkan ajaran Islam. Khusus mengenai
gerakan dan perubahan yang dilakukan oleh sebahagian kaum Yahudi, iaitu dengan
membuat hadis-hadis palsu yang dikenal dengan sebutan “Israiliyyat”.
sebahagian faktor lainnya yang diciptakan kerana sifat haloba dan tamak
terhadap dunia, dan kerana hasad dan dengki hati yang mendalam terhadap
Ahlulbait (a.s). Setiap kelompok dengan menggunakan politik berhasil menjauhkan
sebahagian besar umat Islam dari para Imam Ahlulbait (a.s) yang merupakan
hidayah kepada shirat al-mustaqim (petunjuk jalan lurus)
dengan menciptakan berbagai aliran tertentu. Tetapi sebahagian aliran tersebut
telah musnah ditelan masa dan sebahagian lainnya muncul kembali pada abad-abad
moden sekarang ini. Walaupun mereka bersungguh-sungguh untuk menghancurkan
Islam, tetapi berkat bimbingan dan usaha keras para Imam Ahlulbait (a.s) dengan
penuh kesabaran, istiqamah dan juga dengan usaha keras para pengikut
setia Imam-imam suci Ahlulbait (a.s), ajaran Islam yang asli dan sumber wahyu
Ilahi yang agung masih tetap terjaga secara turun temurun dari generasi ke
generasi berikutnya hingga hari ini.
Selama Nabi
Muhammad (s.a.w) muncul di tengah-tengah umat Islam, persatuan dan persaudaraan
kaum muslimin -walaupun secara zahiriah- masih tetap terpelihara. Di kala itu
mereka menjadikannya sebagai tempat rujukan. Rasulullah (s.a.w)
–sebagaimana pada peristiwa Yaumuddar- telah menyampaikan hadis indzâr
(peringatan) dan setelah mengajak sanak keluarganya, beliau memperkenalkan,
menjadikan dan menunjuk Imam Ali (a.s) yang berusia tiga belas tahun sebagai washi
dan khalifahnya. Setiap kali memperoleh kesempatan yang baik, beliau sentiasa
mengajak umat untuk mengikuti dan menerima khilafah Ali (a.s). Akhirnya pada
kesempatan haji wada’, iaitu pada tanggal 18 bulan Dzul Hijjah tahun 10
H, di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum dan secara rasmi, Nabi
Muhammad (s.a.w) mengangkat dan menunjuk Ali (a.s) sebagai wali dan pemimpin
umat Islam dan meminta mereka semua agar membaiat kepadanya. Wilayah dan
kemimpinan Imam Ali (a.s) itu merupakan kesempurnaan agama dan nikmat Ilahi.
Sementara
jenazah Rasulullah (s.a.w) belum lagi dikuburkan, di sana terdapat
sekelompok umat Islam tengah bising membicarakan ihwal siapa yang akan
menggantikan dan menjadi khalifah Rasulullah (s.a.w). Ketika itu umat Islam
terpecah menjadi dua kelompok.Satu kelompok umat adalah orang-orang yang
menerima dan mentaati wasiat Nabi Muhammad (s.a.w).Mereka menganggap bahawa
Ahlubait adalah sebagai khalifah yang rasmi setelah kepergiannya.Mereka ini
dikenal sebagai Syi’ah Ali (a.s) yang mengutuk para pengingkar wasiat Nabi
Muhammad (s.a.w).Satu kelompok lainnya adalah orang-orang yang hatinya dipenuhi
dengan sifat fanatik suku dan perkauman.Mereka berkeyakinan dan mengatakan
bahawa “Sesungguhnya bagi kami tidak ada bezanya antara menantu Nabi Muhammad
(s.a.w) dengan ayah isterinya.[4]
Setelah pemimpin
kami berhasil menduduki kursi khilafah dan kepemimpinan umat, maka umat harus
mengikuti dan mentaatinya dan tidak boleh menentangnya sama sekali”. Kelompok
kedua ini pun mengatakan: “Kerana Al-Husein (a.s) berani menentang dan melawan
khalifah rasmi; Yazid bin Mu’awiyah, maka darahnya ditumpahkan. Memang Yazid
keliru dalam ijtihadnya itu, tetapi ia telah bertaubat atas kekeliruannya
tersebut”.Dari sinilah umat Islam pecah menjadi dua kelompok; Syi’ah dan
Sunni.Setelah terjadinya perang antara pasukan Ali (a.s) dan Mu’awiyah,
muncullah kelompok ketiga yang disebut Khawarij.
Dan
setelah masa kekuasaan Bani Umayyah, Bani Marwan dan pertempuran antara mereka
dengan Bani Abbasiyah, yang akhirnya masa kekuasaan mereka pun berakhir dengan
dibukanya kembali pintu dialog, pengajaran dan pendidikan, penerjemahan
kitab-kitab Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Arab dan masuknya kaum Yahudi dan
Nasrani kedalam pemerintahan para khalifah sehingga mereka dijadikan sebagai
ulama dan ahli-ahli hadis dalam Islam, pada masa itu, di tengah-tengah
masyarakat Islam tersebar berbagai pandangan. Sementara itu para penguasa yang
tamak haloba tetap menekan dan melarang keras para Imam Ahlulbait (a.s) dan
ulama Syi’ah dalam menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam yang murni.Mereka
bahkan memasukkan para Imam Suci (a.s) ke dalam penjara, sementara para pemalsu
hadis dengan bebas dan berleluasa berkeliaran di tengah-tengah umat Islam
membuat hadis-hadis palsu.
Dengan
itu, umat Islam semakin jauh dari risalah asli Rasulullah (s.a.w).Mereka telah
dihadapkan oleh berbagai ajaran dan pemikiran yang beracun oleh para khalifah
Bani Umayyah dan ajaran ulama Bani Abbasiyah yang merosak.Hal itu mereka
lakukan hanya untuk mempertahankan singgahsana kekuasaan mereka, sehingga
berbagai aliran dan mazhab pun mereka ciptakan. Di sisi lain, ada sekelompok
ulama yang telah diketahui sebagai murid-murid Imam Maksum (a.s) yang bergerak
dalam pelbagai bidang tabligh, pengajaran dan pencerahan terhadap umat, tetapi
mereka berani menjual agama demi mendekati pintu-pintu khalifah kuasa angkuh
untuk memperolehi kenikmatan duniawi dan mengabaikan kenikmatan ukhrawi. Kerana
itulah, selama beberapa kurun waktu mazhab Syi’ah sama sekali tidak dikenal
oleh umat Islam, bahkan tidak diakui sebagai salah satu mazhab rasmi dalam Islam.
Munculnya
berbagai aliran dan mazhab dalam Islam hingga menjadi 73 kelompok, merupakan
buah-buah busuk dari sebuah pohon yang ditanam oleh sekelompok umat ketika
mereka berkumpul di Saqifah.Kelompok inilah yang keluar dari pasukan dan
kepemimpinan pemuda yang bernama Usamah.Mereka telah menginjak-injak
wasiat-wasiat Nabi (s.a.w) sekaitan dengan wilayah dan khilafah Ali (a.s) dan
telah melupakan peristiwa pembaiatan mereka kepada Imam Ali (a.s) di Ghadir
khum sehingga akhirnya mereka menjauhkan sebahagian besar umat Islam daripada
ajaran Islam yang murni.[5]
Sekelompok
umat mengatakan bahawa dirinya adalah sebagai pengikut Sunnah Nabi Muhammad
(s.a.w).Tetapi pada awal kekhilafahan, mereka telah berani memansukhkan
sebahagian hukum-hukum Islam dan melakukan ijtihad yang bertentangan dengan
teks-teks Ilahi. Di antara mereka ada yang berani membuat keputusan dan
berkata: “Ada dua mut’ah yang di masa hayat Nabi (s.a.w) dihalalkan,
tetapi kini aku telah mengharamkannya, iaitu nikah mut’ah dengan wanita
dan haji tamattu’”. Tidak lama setelah itu, ia menghapus kalimat “Hayya
ala khairil amal” dari azan shalat untuk tujuan agar kaum muslimin bersedia
berangkat memerangi Romawi dan Persia daripada melakukan shalat.
Dia juga
memerintahkan umat agar melakukan shalat sunat (tarawih) secara
berjemaah dan akhirnya merubah tata cara berwudhu yang biasa dilakukan oleh
Rasulullah (s.a.w). Tujuannya agar dapat mengambil keuntungan duniawi dari
upaya tersebut. Sekelompok lainnya, sebagai ganti dari sunnah Nabi (s.a.w)
mengambil sunnah khulafa sebagai gantinya. Mereka juga memaksa kaum muslimin
agar mempraktikan tata cara wudhu Usman. Hal itu mereka lakukan untuk
membezakan antara kaum Alawi dan Syi’ah dengan kelompok mereka.Di samping itu,
agar kaum Syi’ah, anak keturunan Ali dan Zahra (a.s) musnah.
Masyarakat
Syam (Suriah), setelah ditakluki oleh prajurit Islam, tidak lagi melihat Islam
selain apa yang dipraktikkan oleh Bani Umayyah. Muawiyah telah mendakwa dirinya
sebagai khalifah Rasul (s.a.w). Tujuannya adalah agar nama Nabi (s.a.w)
disandingkan dengan nama-nama keturunannya, dan keturunan pasangan Ali dan
Zahra (a.s) tidak lagi dikenal di kalangan masyarakat Islam. Kerana itu, sunnah
sayyi’ah (ketetapan buruk) yang ia sebarkan adalah keharusan melaknat Ali
(a.s) di dalam khutbah-khutbah Juma’at dan pada mimbar-mimbar lainnya secara
rasmi hingga pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz akhirnya umat Islam tidak
lagi mengindahkan hidayah dan bimbingan para Imam Maksum (a.s).
Hingga
akhirnya pada masa terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan antara Bani
Umayah dan Bani Abbasiyah dan adanya pembelaan Bani Abbas -secara lahiriah-
terhadap keluarga Ali a.s (Alawi), pada masa itu, Imam Muhammad Baqir (a.s) dan
Imam Ja’far Shadiq (a.s) mendapat kesempatan yang terbatas untuk menyampaikan
tabligh, menyebarkan pengajaran dan pendidikan kepada sebahagian umat Islam
sehingga keduanya dapat menjelaskan hadis-hadis Rasulullah (s.a.w) yang belum
ditulis dan menafsirkan batin Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, hukum-hukum dan
pelbagai ilmu pengetahuan Ahlulbait (a.s) yang murni kepada mereka.[6]
Kemudian
para ulama Syi’ah dan murid-murid Imam Maksum (a.s) menyampaikan ilmu-ilmu tersebut
kepada generasi berikutnya.Tetapi setelah Bani Abbasiyah berhasil menduduki
kursi kekuasan, terjadi lagi tekanan terhadap gerakan dakwah para Imam Maksum
(a.s) sehingga mereka dimasukkan lagi ke dalam penjara atau diasingkan di
tempat yang jauh atau di kamp militer dimana pada saat itu mereka terpaksa
melakukan taqiyah.
Dari sisi
lain, perkembangan ilmu pengetahuan, ceramah-ceramah dan nasihat-nasihat ramai
tersebar di mana-mana. Setiap orang yang menyebut dirinya sebagai seorang ulama
Islam, ahli hadis dan mujtahid, maka masyarakat akan ramai berkumpul di
sekelilingnya. Ramainya hal ini membuat khulafa' khawatir kerana kedudukannya
terancam. Kerana sebab itu, akhirnya mereka membatasi dan mengumumkan mazhab
rasmi hanya pada empat mazhab saja, iaitu: Syafi’i, Hanbali, Maliki dan Hanafi.
Sementara aliran-aliran lainnya terpaksa harus di hentikan.
Di kalangan khulafa' dan para
pejabat mereka, terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tujuan yang
bermacam-macam. Dengan mengamati kondisi itu kita melihat bahawa
1. Sebahagian mereka masih tetap menyimpan rasa dengki yang
mendalam terhadap Ali dan Zahra (a.s). Kedengkian mereka itu pun pada masa
hayat Rasulullah (s.a.w) pernah mereka tampakkan dalam bentuk yang beragam,
sekalipun nampak lemah.Hal ini sebagaimana disinggung di dalam kitab-kitab
Sunni dan Syi’ah.
2. Sebahagian kelompok lainnya dengan sengaja memilih Islam
dengan tujuan untuk memperoleh kedudukan dan kekuasaan. Mereka ini sentiasa
mencari-cari dan menunggu-nunggu kesempatan yang tepat.Sehingga pada saat wafat
Rasulullah (s.a.w), sementara Ali (a.s) dan keluarganya masih sibuk mengurus
jenazah beliau, mereka menggunakan kesempatan ini untuk meraih kursi khilafah.
3. Sebahagian lainnya terpaksa masuk Islam ketika terjadi
peristiwa ditaklukkannya kota Makkah (fath Makkah), kerana mereka merasa
bahawa nyawanya terancam. Kelompok ini senantiasa berpikir untuk merubah dan
bahkan memusnahkan dasar-dasar Islam.Bani Umayyah adalah dari anak keturunan
kelompok ini.
4. Di antara mereka terdapat pula sekelompok kaum munafikin
dari bangsa Arab dan Yahudi. Mereka ini juga sentiasa mencari jalan untuk boleh
mengubah dan menyelewengkan agama Islam dan menghancurkan kaum muslimin.
5. Terdapat juga sekelompok ulama Yahudi yang berhasil mendekati
dan memasuki pintu-pintu khalifah Bani Umayyah. Mereka juga dikenal sebagai
muballigh, khatib dan muhaddis Islam kemudian turut menyumbangkan dalam usaha
merosak ajaran Islam yang murni dari dalam.
6. Yang lainnya adalah orang-orang jahil, para penasihat dan
pemalsu hadis. Mereka ini saling membantu untuk dapat mencapai tujuan jahat dan
mengaut keuntungan material dunia.
7. Para ulama dan ilmuan yang tidak setia. Mereka menjadikan
Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi (s.a.w) sebagai modal untuk mencari
kekayaan dan kedudukan, dan mereka mangambil pemisah yang jauh dari para Imam
suci Ahlulbait (a.s) yang merupakan guru-guru besar mereka dan pembawa risalah
Islam. Mereka sibuk menafsirkan Al-Qur’an, padahal tidak memiliki pengetahuan
yang cukup tentang Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi (s.a.w) serta tidak memiliki
ilmu-ilmu asas-asas bahasa Arab yang mendalam.Setiap kelompok mengikuti
pandangan seorang ulama tertentu.[7]
8. Masyarakat awam yang tidak mempunyai pendirian dan sikap
terhadap berbagai peristiwa. Mereka juga jauh dari hidayah para Imam Ahlulbait
(a.s) sehingga mempunyai akidah dan keyakinan yang menyimpang, seperti
keyakinan terhadap hidupnya Zaid bin Ali (a.s) yang selama beberapa waktu
jasadnya dibiarkan, atau meyakini hidupnya Ismail bin Ja’far (a.s) (yang telah
dimakamkan oleh ayahnya sendiri) dan meyakini keimamahannya.
9.
Dan terakhir
gerakan besar dunia dan Zionis Israel. Untuk tujuan memusnahkan Islam dan
menghancurkan kaum muslimin, mereka menciptakan kelompok-kelompok dan
aliran-aliran sesat seperti aliran Bahaiyah, Wahabiyah, Taliban, dan lain-lain.
Dari uraian di atas, dapatlah difahami bahwa
faktor-faktor terpecahnya umat Islam dapat dibagi menjadi dua bagian, faktor dalaman
dan faktor luaran. Faktor dalaman seperti: hasad, dengki dan tekanan terhadap
Ahlulbait (a.s) dari pihak Bani Umayyah dan Abbasiyah. Termasuk juga kebodohan,
keawaman masyarakat, tamak dan haloba terhadap kedudukan, kekuasaan dan
kedudukan.
Sedang faktor luar adalah: seperti pelarangan atas
penulisan hadis dan sunnah Nabi Muhammad (s.a.w) selama seratus tahun
lamanya, dipisahkannya pengetahuan tentang sastra dan tata bahasa Arab dengan
Al-Qur'an, timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat dan kesimpulan-kesimpulan
yang diperolehi dari ayat-ayat Al-Qur’an, munculnya banyak hadis-hadis palsu
yang masuk ke dalam rujukan-rujukan Islam, terpisahnya umat Islam dari para
Imam Ahlulbait (a.s) yang mengetahui tentang Al-Qur’an secara mendalam dan
terperinci, timbulnya berbagai ijtihad dan pandangan pribadi yang berlawanan
dengan sunnah Nabi (s.a.w) yang dilakukan oleh para khalifah, sokongan
dan perlindungan para khalifah terhadap sebahagian mazhab dan firqah
Islam, penekanan dan pemenjaraan terhadap para Imam suci Ahlulbait (a.s) dan
para ulama serta para pengikut setia mereka dan masuknya ulama Yahudi dan
Nasrani ke dalam agama Islam serta kezaliman para kuasa angkuh atas kaum
muslimin.
Sudah pasti bahawa seluruh faktor tersebut sangat
berpengaruh dan berperan dalam merubah dan menyelewengkan ajaran Islam yang
asli dan memecah belah kaum muslimin. Jelas sekali, bahawa di antara jalan,
aliran dan pandangan yang bermacam-macam itu, hanya ada satu jalan lurus yang
mesti diikuti dan diakui. Tetapi apabila kebenaran itu bercampur dengan
penyelewengan, kesalahan dan penyimpangan, maka ia dianggap menjadi kebatilan
dan kesesatan.
Untuk mengetahui jalan lurus dan hakikat yang sejati
baik menurut Sunni maupun Syi’ah, hanyalah melalui pengenalan yang baik
terhadap Al-Qur’an al-Karim yang merupakan mu’jizat Ilahi yang kekal dan tetap
terjaga dari berbagai penyimpangan dan perubahan, serta melalui jalan sunnah
Nabi Muhammad (s.a.w) dan hadis-hadisnya yang mutawatir menurut Sunni dan
Syi’ah. Dan sunnah para Imam suci Ahlulbait (a.s) juga sejalan dengan Al-Qur’an
dan Sunnah Nabi Muhammad (s.a.w).[[8]]
Pada
pembahasan ini akan kami sampaikan beberapa contoh aliran teologi islam
diantaranya yaitu:
a. Aliran Mu`tazilah
aliran ini merupakan aliran terbesar
dan tertua. Dan juga ikut memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran
dunia islam. Ajaran – ajaran pokok aliran ini yaitu; Ke – Esa – an, Keadilan,
Janji dan Ancaman, Tempat diantara dua tempat, dan yang terakhir yaitu menyuruh
berbuat kebaikan dan melarang segala kemungkaran.
b. Aliran Jabariyah
Kaum ini berpendapat bahwa manusia
tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Jadi
segala yang dilakukan oleh menusia adalh kehendak tuhan atau sudah menjadi qada
dan qadar tuhan secara penuh
c. Aliran Qadariah
Kaum ini sebaliknya dengan kaum
jabariyah, yaitu manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan
perjalanan hidupnya. Jadi segala sesuatu yang dilakukan manusia memang atas
kehendak dan kekuatan dari menusia tersebut.
d. Ahli sunnah dan jama`ah
Golongan ini timbul atas reaksi
paham-paham golongan sebelumnya seperti Mu`tazilah dan qadariyah dan yang
lainnya. Golongan ini, salah satunya menjunjung tinggi qaidah attasamukh
(toleran) yaitu tidak seperti mu`tazilah yang begitu keras dalam menyiarkan
agama. Ahl Sunnah dan Jamaah tidak menjunjung tinggi-tinggi kekuatan manusia
dan juga tidak meyerahkan kekuatan sepenuhnya kepada Tuhan.[9]
Dan
diIndonesia juga bermunculah kelompok yang bersumber dari pemahaman aliran
diatas :
1.
NU
2.
Muhammadiyah
3.
LDDI
4.
HTI
5.
Ahmadiyah
6.
DLL
Dan untuk mengantisipasi aliran
sesat dan menyesatkan MUI memberi kriteria yang termasuk aliran sesat yang
keluar dari Islam :
1.
Mengingkari salah satu rukun iman dan islam.
2.
Meyakini akidah yang keluar dari Al-Qur’an dan Hadist.
3.
Meyakini keluarnya wahyu setelah Al-Qur’an
4.
Mengingkari keberadaan Al-Qur’an dan Hadist
5.
Mengingkari Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul Alloh
SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Demikianlah pembahasan tentang
beberapa aliran teologi dalam islam. Ada
yang bercorak liberal dan ada pula yang bercorak tradisional, bahkan ada yang
diantara kedua-duanya. Dan setelah mengetahui beberapa aliran teologi dalam
islam beserta sejarah singkatnya, di harapkan umat islam dapat mempunyai
pandangan lain tentang islam yang tidak hanya dari sudut pandang halal dan
haram saja, dan mengnggap islam itu sempit. Ynag mana teologi mempunyai sudut
pandang yang lebih luas.
Semua aliran juga berpegang pada wahyu. Sebenarnya perbedaan
terdapat pada interpretasi mengenai teks ayat-ayat Al-Qur`an dan Hadits. Dan
ini juga seperti perbedaan yang terjadi dalam bidang hokum islam atau Fiqih.
Yang selanjutnya menghasilkan beberapa madzhab-madzhab yang berbeda seperti
yang dikenal dengan sekarang, yaitu madzhab hanafi, madzhab Maliki, madzhab
hambali, dan madzhab Syafi`i.
Pada hakikatnya semua aliran-alairan yang timbul bukanlah
keluar dari islam, tetapi masih tetap dalam islam. Dengan demikian umat islam dapat
memillih salah satu dari aliran teologi tersebut menurut jiwa dan pendapatnya.
Sebagaimana seseorang memilih madzhab dalam Fiqih.Dari sinilah kelihatan hikmah
ucapan dari Nabi Mmuhammad SAW,” Perbedaan paham dikalangan umatku membawa
rahmat”. Walaupun begitu kita tetap harus memilih aliran teologi yang paling
mendekati dengan pedoman umat islam yaitu Al-Qur`an dan Hadits.
B.
Saran.
Demikianlah tugas penyusunan makalah
ini kami persembahkan. Harapan kami untuk
mengembangkan
potensi yang ada dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa difahami oleh
para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca.
Khususnya dari Ibu Dosen yang telah membimbing kami dan para mahasiswa demi
kesempurnaan makalah ini. Apabila ada
kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/Kajian Islam
Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/Kajian Islam
Smeer, Zeid B.2008, Ilmu Kalam : UIN
Malang Press 2008
[1]
Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/11/Kajian Islam
[2]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[3]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[4]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[5]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[6]
Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/11/Kajian Islam
[7]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[8]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[9]
H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar