Minggu, 10 April 2016

Hubungan Aliran-Aliran diIndonesia




Hubungan Aliran-Aliran diIndonesia
Ilmu Kalam
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dosen Pembimbing :Asna Andriani, SS. M.Hu



 





Disusun Oleh :
1. Slamet Haryanto
                                                                                  2. Arsad
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (2-A)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
MARET 2016



     KATA PENGANTAR
Alkhamdulilah puji sukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT atas rohmat,karunia,taufik dan hidayah-Nya. Kami menyelesaikan makalah dengan judul Ilmu Kalam kajian atas hubungan Aliran Aliran diIndonesia. Dan rasa terimakasih  pun tidak lupa kami ucapkan kepada :
1.      Bapak Nurul Amin, M.Ag selaku Kepala Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Tulungagung.
2.      Ibu Asna Andriani, SS. M. Hum
Penulis menyadari betul bahwa masih banyak terdapat sekali kekurangan dalam penyusunan makalah ini . Untuk itu kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan. Disamping itu penulis juga berharap semoga materi yang dipaparkan dalam makalah ini, dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.


Tulungagung , 10 Maret 2016
Penulis






                                                                                               


ii





DAFTAR ISI

          HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………………….           I
          KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………….          ii
          DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………….            iii
          BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………….          I
B.      Rumusan Masalah………………………………………………………………………………….          I
C.      Tujuan Pembahasan……………………………………………………………………………….         I
          BAB II PEMBAHASAN
1.       Hubungan Aliran –Aliran diIndonesia
A.      Munculnya Aliran Aliran Teologi dalam Islam ……………………………………..             2
B.      Sejarah dan macam-macamnya …………………………………………………………              5
          BAB III PENUTUP
                Kesimpulan……………………………………………………………………………………………….               12
          DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………..             13






Iii





BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang :
      Sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dari suatu agama.Setiap orang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari Aliran-Aliran  akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman. Dalam Alqur`an pun sudah dijelaskan untuk mendalami agama secara penuh,” Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
      Dalam istilah arab ajaran-ajaran dasar itu disebut usul Addin dan oleh karena itu buku yang membahasa soal-soal Aliran dalam islam selalu diberi nama kitab Usul Addin oleh para pengarangnya. Ajaran-ajaran itu disebut jjuga `Aqa`id atau keyakinan. Dan agama itu tidak akan lurus kecuali didasari dengan aqidah yang benar dan amal yang shahih. Hal itu dapat terealisasikan dengan berpegang teguh kepada kitab sici Al-Qur`an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
     

B.      Rumusan Masalah

1         Hubungan Aliran-Aliran diIndonesia
2         Munculnya aliran-aliran Teologi dalam Islam
3         Sejarah dan Macam –macamnya

C.      Tujuan
a.       Menjelaskan munculnya aliran –aliran dalam Islam
b.      Menjelaskan sejarah dan macam-macamnya








BAB II
PEMBAHASAN
  A.Munculnya aliran-aliran Teologi dalam Islam
Teologi, sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dari suatu agama.Setiap orang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman. Dalam Alqur`an pun sudah dijelaskan untuk mendalami agama secara penuh,” Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
      Dalam istilah arab ajaran-ajaran dasar itu disebut usul Addin dan oleh karena itu buku yang membahasa soal-soal teologi dalam islam selalu diberi nama kitab Usul Addin oleh para pengarangnya. Ajaran-ajaran itu disebut jjuga `Aqa`id atau keyakinan. Dan agama itu tidak akan lurus kecuali didasari dengan aqidah yang benar dan amal yang shahih. Hal itu dapat terealisasikan dengan berpegang teguh kepada kitab sici Al-Qur`an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
      Teologi dalam islam disebut juga `Ilmu At-tauhid. Kata tauhid mengandung arti satu atau Esa. Ke-Esa-an yang dalam pandangan islam, sebagai agama yang monoteisme, merupakan sifat yang terpenting diantara sifat-sifat tuhan. Selanjutnya teologi islam disebut juga Ilm Kalam. Kalam adalah kata-kata, maka yang dimaksud kalam ialah sabda Tuhan.
Akhir-akhir ini banyak sekali aliran-aliran islam, khususnya di Indonesia. Seperti contoh aliran Ahmadiyah, yang oleh kelompok islam garis keras dihancurkan tempat peribadatannya dan oleh MUI dikatakan sebagai aliran sesat. Dan apakah seperti itu yang bias disebut aliran teologi dalam islam. Ternyata tidak semudah itu untuk disebut sebagai teologi Islam. Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita akan membahas dulu tentang pengertian teologi Islam.
      Ada banyak sekali pengertian mengenai teologi Islam menurut beberapa pemikir. Diantaranya dari Fergilius Ferm yaitu seorang ahli Ilmu agam,a mengatakan : The disclipine which concern god (or the Deviniti Reality) and Gods relation to the world (teologi ialah pemikiran sistematis yang berhubungan dengan alam semesta). Tetapi kita harus membahas dulu menurut segi Etimologi atau bahasa maupun Terminologi atau Istilah.Teologi terdiri atas dua kata yaitu Theos yang artinya tuhan dan liogos tyang artinya Ilmu. Jadi teologi bias disebut juga dengan Ilmu tuhan atau disebut ilmun ketuhanan. [1]

      Dalam kamus New English Dictinary juga menerangkan tentang teologi yang diseusun oleh Collins sebagai berikut : the science which treats of the facts and phenomena of religion and the relation between God and men ( ilmu yang yang membahas fakta-fakta dan gejala-gejala agama serta hubungan-hubungan antara tuhan dan manusia). Jadi secara garis besaa teologi adalah ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama.
      Setiap manusia pastilah ingin menetahui lebih dalam tentang seluk beluk agamanya sehingga tidak mudah goyang ketika muncul aliran-aliran baru yang mungkin akan timbul dikemudian hari. Dan mereka dapat mempunyai keyakinan-keyakinan uyang berdasarkan pada landasan yang kuat sehingga tidak menjadi seorang yang taqlid buta.

2




Islam adalah agama yang sebenarnya mempunyai sebuah pegangan beragama yaitu Al-Qur`an dan Hadits. Dalam segala persoalan Al-Qur`an dan Hadits rosul dapat menjelaskan dan menyelesaikan persoalan tersebut. Baik dalam bidang social bermasyarakat atau bermuamalat, bidang politik, ekonomi dan apaloagi soal keyakinan atau tauhid. Akan tetapi untuk menjawab persoalan tersebut, Al-Qur`an masih harus dipelajari denagn sangat lebih dalam karena masih banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang menerangkan sesuatu secara global dan belun terperinci.Al-Qur`an dan hadits Nabi sendiri banyak berisi pembicaraan tentang wujud tuhan, keagunagn tuhan dan Ke-Esa-AnNya. Dalam Aql-Qur`an sendiri juga banyak menyebutkan tentang sifat-sifat tuhan, yang mana sebagian bertalian dengan dzat Tuhan sendiri dan sebagian lagi menyatakan semacam hubungan dengan makhluk-Nya, seperti Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha memberi Rizqi dan lain sebagainya.
      Tetapi anehnaya, persoalan yang pertama kali muncul bukanlah tentang tauhid atau teologi, melainkan dalam bidang politik. Dan persoalan dalam bidang politik tersebutlah yang menjadi suatu embrio perpecahan umat yang akhirnay mengantarkan kepada munculnya berbagai aliran-aliran teologi dalam islam. Oleh karena itu awal mula munculnnya aliran-aliran teologi dalam islam tidaklah begitun jelas. Karena m,unculnya aliran teologi tersebut melalui beberapa fase. Dan selama kurang lebih 3 abad lamanya melakukan perdebatan, baik antara sesame maupun dengan lawan-lawan dan pemeluk agama lain, kaum muslimin ssampaikepada ilmu yang mejeloaskan dasar-dasar aqidahnya dan jugaa perinci-perinciannya.
      Al-Qur`an sendiri sangat menyarankan umat islam untuk memakai akal pikirannya. Dan juga memperhatikan alam semesta ini dengan panca indra yang dimilikinya. Oleh Karen itu, untukn urusan beragama islam dengan keras mencela seorang yang beragama yang hanya taqlid buta atau ikut-ikutan tentang soal-soal kepercayaan agama. Oleh karena itu umat muslim harus benar-benar melepaskan akal pikirannyauntuk menggali kandungan isi Al-Qur`an dan sunnah Rosul. Pada waktu Rosulullah masih hidup, umat islam dapat menanyaka segala sesuatu persoalan atau kesulitan kepada beliau akan tetapi setelah beliauy wafat mereka tidak bias menanyakannya langsung kepada Riosulullahn. Melainkan kepada para penerus pemimpoin umat, yang mana mereka harus dapat menggali isi Al`Qur`an denga akal pikiran dengan tata cara yng bias dipertanggung jawabkan.
      Setelah Rosulullah wafat, muncullah persoalan politik dikalangan umat islam yaitu tentang Imamah (pimpinan kaumn muslim berikutnya). Dan sejarah merwayatkan bahwa yang menjadi pengganti (sebagain kepala Negara, bukan sebagai Nabi atyau rosul ) adalah Abu Bakar. Dan itupun melalui sebuah perdebatan yag besar oleh para pemuda, sahabat muhajirin dan sahabat anshor.kemudian abu Bakar digantikan oleh Umar Ibn Khottab dan Umar digantikan oleh Utsman bin Affan.
      Dalam pertengahan pemerintahan, Kholifah Usman bin Affan tidak berdaya dalam menghadapi keluarga beliau yang mempunyai ambisi untuk duduk dalam pemerintahan. Banyak keluarga beliau yang menjadi gubernur di beberapa daerah kekuaasaan islam pada saat itu. Dan akibat tindakan Khalifah Usman tersebut banyak para sahabat Nabi yang dulu menyokong beliau sekarang menjauhi beliau.Yang akhirnya khalifah Usman wafat karena dibunuh oleh para pemberontak dari Makkah. [2]


                                                                       
     



Setelah khalifah Usman wafat, kekhalifahan digantikan oleh Ali. Dan belum lama memerintah sebagai khalifah, Ali mendapatkan tantangan dari Aisyah, Talhah Dan Zubair. Tetapi tantangn tersebut dapat diselesaikan dengn perang. Dan tantangn berikutnya yaitu dari Mu`awiyah. Mu`awiyah menuduh bahwa Ali turut campur dalam pembunuhan Khalifah Usman karena Muhammad Ibn Abi Bakar (pembunuh Usman) adalah anak angkat dari Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali tidak mengambil tindakan keras atas kasus tersebut.
            Selanjutnya Khalifah Ali dan Mu`awiyah melakukan peperangan di bukit siffin. Yang akhirnaya Khalifah Ali dapat memojokkan Mu`awiyah. Akan tetapi karena kelicikan dari kelompok Muawiyah, yaitu dengan mengangkat Al-Qur`an keatas (tanda-tanda perdamaian), kelompok Ali pecah menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok yang setuju untuk berdamai deng tetap ikut kepada khalifah Ali(Syiah) dan kelompok yang tidak ingin untuk berdamai (Kawarij).
            Demikianlah beberapa persoalan poliitk yang akhirnya memicu terjadinya permasalahan teologi. Yaitu dimulainya persoalan dosa besar karena membunu Khalifah Usman. Dan timbullah persoalah siapa yang kafir dan siapa yang tidak kafir.dalam arti siapa yang masih dalam islam dan siapa yang sudah keluar dalam islam. Dari sinilah awal muncul tiga aliran teologi yaitu yang pertama, Aliran Khawarij yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir (murtad) dan oleh karena itu wajib di bunuh.
            Aliran yang kedua, yaitu Aliran Murji`ah yang menegaskan bahwa orang yang melakukan dosa besar masih dikatakan mukmin, adapun dosa yang dilakukan terserah Allah SWT. Aliran yang ketiga, yaitu Aliran Mu`tazilah yang menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir dan juga bukan mukmin, melainkan berada diantaranya (almanzilah bain almanzilah). Dan demikianlah sebenarnya sebuah persoalan fiqh (pertalian dengan manusia) yang mengantarkan menjadi masalah kepercayaan (teologi).

  B.Sejarah dan macam-macamnya aliran
Terdapat penyebab yang beragam berkenaan dengan kemunculan perbagai aliran dan mazhab dalam Islam. Di antaranya adalah ketidakpedulian sekelompok umat Islam terhadap wasiat-wasiat dan ucapan Rasulullah (s.a.w) berkenaan dengan masalah khilafah dan keimamahan Imam Ali (a.s), masuknya para pemeluk agama lain di kalangan umat Islam, percampuran dan pertukaran budaya dengan mereka, adanya jarak masa yang jauh antara umat Islam dengan ajaran Islam yang sebenar dan pengetahuan terhadap peranan Ahlubait (a.s), adanya pelarangan atas penulisan hadis-hadis Nabi (s.a.w) hingga berlangsung satu abad lamanya, campur tangan-tangan jahil para khalifah Bani Umayyah dalam membuat hadis-hadis palsu untuk memuji sebahagian sahabat yang munafik, adanya campur tangan para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah dengan menciptakan perselisihan mazhab di antara kaum muslimin dengan tujuan untuk menangkap ikan di air keruh agar mereka tetap boleh mempertahankan kekuasaan mereka, kebodohan umat dan terpengaruhnya mereka dengan berbagai propaganda busuk.[3]





Sudah tentu, bahwa sebahagian faktor itu sengaja diciptakan untuk tujuan merobah dan menghancurkan ajaran Islam. Khusus mengenai gerakan dan perubahan yang dilakukan oleh sebahagian kaum Yahudi, iaitu dengan membuat hadis-hadis palsu yang dikenal dengan sebutan “Israiliyyat”. sebahagian faktor lainnya yang diciptakan kerana sifat haloba dan tamak terhadap dunia, dan kerana hasad dan dengki hati yang mendalam terhadap Ahlulbait (a.s). Setiap kelompok dengan menggunakan politik berhasil menjauhkan sebahagian besar umat Islam dari para Imam Ahlulbait (a.s) yang merupakan hidayah kepada shirat al-mustaqim (petunjuk jalan lurus) dengan menciptakan berbagai aliran tertentu. Tetapi sebahagian aliran tersebut telah musnah ditelan masa dan sebahagian lainnya muncul kembali pada abad-abad moden sekarang ini. Walaupun mereka bersungguh-sungguh untuk menghancurkan Islam, tetapi berkat bimbingan dan usaha keras para Imam Ahlulbait (a.s) dengan penuh kesabaran, istiqamah dan juga dengan usaha keras para pengikut setia Imam-imam suci Ahlulbait (a.s), ajaran Islam yang asli dan sumber wahyu Ilahi yang agung masih tetap terjaga secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya hingga hari ini.
Selama Nabi Muhammad (s.a.w) muncul di tengah-tengah umat Islam, persatuan dan persaudaraan kaum muslimin -walaupun secara zahiriah- masih tetap terpelihara. Di kala itu mereka menjadikannya sebagai tempat rujukan. Rasulullah (s.a.w)  –sebagaimana pada peristiwa Yaumuddar- telah menyampaikan hadis indzâr (peringatan) dan setelah mengajak sanak keluarganya, beliau memperkenalkan, menjadikan dan menunjuk Imam Ali (a.s) yang berusia tiga belas tahun sebagai washi dan khalifahnya. Setiap kali memperoleh kesempatan yang baik, beliau sentiasa mengajak umat untuk mengikuti dan menerima khilafah Ali (a.s). Akhirnya pada kesempatan haji wada’, iaitu pada tanggal 18 bulan Dzul Hijjah tahun 10 H, di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum dan secara rasmi, Nabi Muhammad (s.a.w) mengangkat dan menunjuk Ali (a.s) sebagai wali dan pemimpin umat Islam dan meminta mereka semua agar membaiat kepadanya. Wilayah dan kemimpinan Imam Ali (a.s) itu merupakan kesempurnaan agama dan nikmat Ilahi.
Sementara jenazah Rasulullah (s.a.w)  belum lagi dikuburkan, di sana terdapat sekelompok umat Islam tengah bising membicarakan ihwal siapa yang akan menggantikan dan menjadi khalifah Rasulullah (s.a.w). Ketika itu umat Islam terpecah menjadi dua kelompok.Satu kelompok umat adalah orang-orang yang menerima dan mentaati wasiat Nabi Muhammad (s.a.w).Mereka menganggap bahawa Ahlubait adalah sebagai khalifah yang rasmi setelah kepergiannya.Mereka ini dikenal sebagai Syi’ah Ali (a.s) yang mengutuk para pengingkar wasiat Nabi Muhammad (s.a.w).Satu kelompok lainnya adalah orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan sifat fanatik suku dan perkauman.Mereka berkeyakinan dan mengatakan bahawa “Sesungguhnya bagi kami tidak ada bezanya antara menantu Nabi Muhammad (s.a.w) dengan ayah isterinya.[4]





Setelah pemimpin kami berhasil menduduki kursi khilafah dan kepemimpinan umat, maka umat harus mengikuti dan mentaatinya dan tidak boleh menentangnya sama sekali”. Kelompok kedua ini pun mengatakan: “Kerana Al-Husein (a.s) berani menentang dan melawan khalifah rasmi; Yazid bin Mu’awiyah, maka darahnya ditumpahkan. Memang Yazid keliru dalam ijtihadnya itu, tetapi ia telah bertaubat atas kekeliruannya tersebut”.Dari sinilah umat Islam pecah menjadi dua kelompok; Syi’ah dan Sunni.Setelah terjadinya perang antara pasukan Ali (a.s) dan Mu’awiyah, muncullah kelompok ketiga yang disebut Khawarij.
Dan setelah masa kekuasaan Bani Umayyah, Bani Marwan dan pertempuran antara mereka dengan Bani Abbasiyah, yang akhirnya masa kekuasaan mereka pun berakhir dengan dibukanya kembali pintu dialog, pengajaran dan pendidikan, penerjemahan kitab-kitab Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Arab dan masuknya kaum Yahudi dan Nasrani kedalam pemerintahan para khalifah sehingga mereka dijadikan sebagai ulama dan ahli-ahli hadis dalam Islam, pada masa itu, di tengah-tengah masyarakat Islam tersebar berbagai pandangan. Sementara itu para penguasa yang tamak haloba tetap menekan dan melarang keras para Imam Ahlulbait (a.s) dan ulama Syi’ah dalam menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam yang murni.Mereka bahkan memasukkan para Imam Suci (a.s) ke dalam penjara, sementara para pemalsu hadis dengan bebas dan berleluasa berkeliaran di tengah-tengah umat Islam membuat hadis-hadis palsu.
Dengan itu, umat Islam semakin jauh dari risalah asli Rasulullah (s.a.w).Mereka telah dihadapkan oleh berbagai ajaran dan pemikiran yang beracun oleh para khalifah Bani Umayyah dan ajaran ulama Bani Abbasiyah yang merosak.Hal itu mereka lakukan hanya untuk mempertahankan singgahsana kekuasaan mereka, sehingga berbagai aliran dan mazhab pun mereka ciptakan. Di sisi lain, ada sekelompok ulama yang telah diketahui sebagai murid-murid Imam Maksum (a.s) yang bergerak dalam pelbagai bidang tabligh, pengajaran dan pencerahan terhadap umat, tetapi mereka berani menjual agama demi mendekati pintu-pintu khalifah kuasa angkuh untuk memperolehi kenikmatan duniawi dan mengabaikan kenikmatan ukhrawi. Kerana itulah, selama beberapa kurun waktu mazhab Syi’ah sama sekali tidak dikenal oleh umat Islam, bahkan tidak diakui sebagai salah satu mazhab rasmi dalam Islam.
Munculnya berbagai aliran dan mazhab dalam Islam hingga menjadi 73 kelompok, merupakan buah-buah busuk dari sebuah pohon yang ditanam oleh sekelompok umat ketika mereka berkumpul di Saqifah.Kelompok inilah yang keluar dari pasukan dan kepemimpinan pemuda yang bernama Usamah.Mereka telah menginjak-injak wasiat-wasiat Nabi (s.a.w) sekaitan dengan wilayah dan khilafah Ali (a.s) dan telah melupakan peristiwa pembaiatan mereka kepada Imam Ali (a.s) di Ghadir khum sehingga akhirnya mereka menjauhkan sebahagian besar umat Islam daripada ajaran Islam yang murni.[5]



Sekelompok umat mengatakan bahawa dirinya adalah sebagai pengikut Sunnah Nabi Muhammad (s.a.w).Tetapi pada awal kekhilafahan, mereka telah berani memansukhkan sebahagian hukum-hukum Islam dan melakukan ijtihad yang bertentangan dengan teks-teks Ilahi. Di antara mereka ada yang berani membuat keputusan dan berkata: “Ada dua mut’ah yang di masa hayat Nabi (s.a.w) dihalalkan, tetapi kini aku telah mengharamkannya, iaitu nikah mut’ah dengan wanita dan haji tamattu’”. Tidak lama setelah itu, ia menghapus kalimat “Hayya ala khairil amal” dari azan shalat untuk tujuan agar kaum muslimin bersedia berangkat memerangi Romawi dan Persia daripada melakukan shalat.
Dia juga memerintahkan umat agar melakukan shalat sunat (tarawih) secara berjemaah dan akhirnya merubah tata cara berwudhu yang biasa dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w). Tujuannya agar dapat mengambil keuntungan duniawi dari upaya tersebut. Sekelompok lainnya, sebagai ganti dari sunnah Nabi (s.a.w) mengambil sunnah khulafa sebagai gantinya. Mereka juga memaksa kaum muslimin agar mempraktikan tata cara wudhu Usman. Hal itu mereka lakukan untuk membezakan antara kaum Alawi dan Syi’ah dengan kelompok mereka.Di samping itu, agar kaum Syi’ah, anak keturunan Ali dan Zahra (a.s) musnah.
Masyarakat Syam (Suriah), setelah ditakluki oleh prajurit Islam, tidak lagi melihat Islam selain apa yang dipraktikkan oleh Bani Umayyah. Muawiyah telah mendakwa dirinya sebagai khalifah Rasul (s.a.w). Tujuannya adalah agar nama Nabi (s.a.w) disandingkan dengan nama-nama keturunannya, dan keturunan pasangan Ali dan Zahra (a.s) tidak lagi dikenal di kalangan masyarakat Islam. Kerana itu, sunnah sayyi’ah (ketetapan buruk) yang ia sebarkan adalah keharusan melaknat Ali (a.s) di dalam khutbah-khutbah Juma’at dan pada mimbar-mimbar lainnya secara rasmi hingga pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz akhirnya umat Islam tidak lagi mengindahkan hidayah dan bimbingan para Imam Maksum (a.s).
            Hingga akhirnya pada masa terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan antara Bani Umayah dan Bani Abbasiyah dan adanya pembelaan Bani Abbas -secara lahiriah- terhadap keluarga Ali a.s (Alawi), pada masa itu, Imam Muhammad Baqir (a.s) dan Imam Ja’far Shadiq (a.s) mendapat kesempatan yang terbatas untuk menyampaikan tabligh, menyebarkan pengajaran dan pendidikan kepada sebahagian umat Islam sehingga keduanya dapat menjelaskan hadis-hadis Rasulullah (s.a.w) yang belum ditulis dan menafsirkan batin Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, hukum-hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan Ahlulbait (a.s) yang murni kepada mereka.[6]
Kemudian para ulama Syi’ah dan murid-murid Imam Maksum (a.s) menyampaikan ilmu-ilmu tersebut kepada generasi berikutnya.Tetapi setelah Bani Abbasiyah berhasil menduduki kursi kekuasan, terjadi lagi tekanan terhadap gerakan dakwah para Imam Maksum (a.s) sehingga mereka dimasukkan lagi ke dalam penjara atau diasingkan di tempat yang jauh atau di kamp militer dimana pada saat itu mereka terpaksa melakukan taqiyah.




Dari sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan, ceramah-ceramah dan nasihat-nasihat ramai tersebar di mana-mana. Setiap orang yang menyebut dirinya sebagai seorang ulama Islam, ahli hadis dan mujtahid, maka masyarakat akan ramai berkumpul di sekelilingnya. Ramainya hal ini membuat khulafa' khawatir kerana kedudukannya terancam. Kerana sebab itu, akhirnya mereka membatasi dan mengumumkan mazhab rasmi hanya pada empat mazhab saja, iaitu: Syafi’i, Hanbali, Maliki dan Hanafi. Sementara aliran-aliran lainnya terpaksa harus di hentikan.
 Di kalangan khulafa' dan para pejabat mereka, terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tujuan yang bermacam-macam. Dengan mengamati kondisi itu kita melihat bahawa
1.     Sebahagian mereka masih tetap menyimpan rasa dengki yang mendalam terhadap Ali dan Zahra (a.s). Kedengkian mereka itu pun pada masa hayat Rasulullah (s.a.w) pernah mereka tampakkan dalam bentuk yang beragam, sekalipun nampak lemah.Hal ini sebagaimana disinggung di dalam kitab-kitab Sunni dan Syi’ah.
2.     Sebahagian kelompok lainnya dengan sengaja memilih Islam dengan tujuan untuk memperoleh kedudukan dan kekuasaan. Mereka ini sentiasa mencari-cari dan menunggu-nunggu kesempatan yang tepat.Sehingga pada saat wafat Rasulullah (s.a.w), sementara Ali (a.s) dan keluarganya masih sibuk mengurus jenazah beliau, mereka menggunakan kesempatan ini untuk meraih kursi khilafah.
3.     Sebahagian lainnya terpaksa masuk Islam ketika terjadi peristiwa ditaklukkannya kota Makkah (fath Makkah), kerana mereka merasa bahawa nyawanya terancam. Kelompok ini senantiasa berpikir untuk merubah dan bahkan memusnahkan dasar-dasar Islam.Bani Umayyah adalah dari anak keturunan kelompok ini.
4.     Di antara mereka terdapat pula sekelompok kaum munafikin dari bangsa Arab dan Yahudi. Mereka ini juga sentiasa mencari jalan untuk boleh mengubah dan menyelewengkan agama Islam dan menghancurkan kaum muslimin.
5.     Terdapat juga sekelompok ulama Yahudi yang berhasil mendekati dan memasuki pintu-pintu khalifah Bani Umayyah. Mereka juga dikenal sebagai muballigh, khatib dan muhaddis Islam kemudian turut menyumbangkan dalam usaha merosak ajaran Islam yang murni dari dalam.
6.     Yang lainnya adalah orang-orang jahil, para penasihat dan pemalsu hadis. Mereka ini saling membantu untuk dapat mencapai tujuan jahat dan mengaut keuntungan material dunia.
7.     Para ulama dan ilmuan yang tidak setia. Mereka menjadikan Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi (s.a.w)  sebagai modal untuk mencari kekayaan dan kedudukan, dan mereka mangambil pemisah yang jauh dari para Imam suci Ahlulbait (a.s) yang merupakan guru-guru besar mereka dan pembawa risalah Islam. Mereka sibuk menafsirkan Al-Qur’an, padahal tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi (s.a.w) serta tidak memiliki ilmu-ilmu asas-asas bahasa Arab yang mendalam.Setiap kelompok mengikuti pandangan seorang ulama tertentu.[7]








8.     Masyarakat awam yang tidak mempunyai pendirian dan sikap terhadap berbagai peristiwa. Mereka juga jauh dari hidayah para Imam Ahlulbait (a.s) sehingga mempunyai akidah dan keyakinan yang menyimpang, seperti keyakinan terhadap hidupnya Zaid bin Ali (a.s) yang selama beberapa waktu jasadnya dibiarkan, atau meyakini hidupnya Ismail bin Ja’far (a.s) (yang telah dimakamkan oleh ayahnya sendiri) dan meyakini keimamahannya.
9.     Dan terakhir gerakan besar dunia dan Zionis Israel. Untuk tujuan memusnahkan Islam dan menghancurkan kaum muslimin, mereka menciptakan kelompok-kelompok dan aliran-aliran sesat seperti aliran Bahaiyah, Wahabiyah, Taliban, dan lain-lain.
Dari uraian di atas, dapatlah difahami bahwa faktor-faktor terpecahnya umat Islam dapat dibagi menjadi dua bagian, faktor dalaman dan faktor luaran. Faktor dalaman seperti: hasad, dengki dan tekanan terhadap Ahlulbait (a.s) dari pihak Bani Umayyah dan Abbasiyah. Termasuk juga kebodohan, keawaman masyarakat, tamak dan haloba terhadap kedudukan, kekuasaan dan kedudukan.
Sedang faktor luar adalah: seperti pelarangan atas penulisan hadis dan sunnah Nabi Muhammad (s.a.w)  selama seratus tahun lamanya, dipisahkannya pengetahuan tentang sastra dan tata bahasa Arab dengan Al-Qur'an, timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat dan kesimpulan-kesimpulan yang diperolehi dari ayat-ayat Al-Qur’an, munculnya banyak hadis-hadis palsu yang masuk ke dalam rujukan-rujukan Islam, terpisahnya umat Islam dari para Imam Ahlulbait (a.s) yang mengetahui tentang Al-Qur’an secara mendalam dan terperinci, timbulnya berbagai ijtihad dan pandangan pribadi yang berlawanan dengan sunnah Nabi (s.a.w)  yang dilakukan oleh para khalifah, sokongan dan perlindungan para khalifah terhadap sebahagian mazhab dan firqah Islam, penekanan dan pemenjaraan terhadap para Imam suci Ahlulbait (a.s) dan para ulama serta para pengikut setia mereka dan masuknya ulama Yahudi dan Nasrani ke dalam agama Islam serta kezaliman para kuasa angkuh atas kaum muslimin.
Sudah pasti bahawa seluruh faktor tersebut sangat berpengaruh dan berperan dalam merubah dan menyelewengkan ajaran Islam yang asli dan memecah belah kaum muslimin. Jelas sekali, bahawa di antara jalan, aliran dan pandangan yang bermacam-macam itu, hanya ada satu jalan lurus yang mesti diikuti dan diakui. Tetapi apabila kebenaran itu bercampur dengan penyelewengan, kesalahan dan penyimpangan, maka ia dianggap menjadi kebatilan dan kesesatan.
Untuk mengetahui jalan lurus dan hakikat yang sejati baik menurut Sunni maupun Syi’ah, hanyalah melalui pengenalan yang baik terhadap Al-Qur’an al-Karim yang merupakan mu’jizat Ilahi yang kekal dan tetap terjaga dari berbagai penyimpangan dan perubahan, serta melalui jalan sunnah Nabi Muhammad (s.a.w) dan hadis-hadisnya yang mutawatir menurut Sunni dan Syi’ah. Dan sunnah para Imam suci Ahlulbait (a.s) juga sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad (s.a.w).[[8]]





Pada pembahasan ini akan kami sampaikan beberapa contoh aliran teologi islam diantaranya yaitu:

a. Aliran Mu`tazilah
aliran ini merupakan aliran terbesar dan tertua. Dan juga ikut memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia islam. Ajaran – ajaran pokok aliran ini yaitu; Ke – Esa – an, Keadilan, Janji dan Ancaman, Tempat diantara dua tempat, dan yang terakhir yaitu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang segala kemungkaran.
b. Aliran Jabariyah
Kaum ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Jadi segala yang dilakukan oleh menusia adalh kehendak tuhan atau sudah menjadi qada dan qadar tuhan secara penuh
c. Aliran Qadariah
Kaum ini sebaliknya dengan kaum jabariyah, yaitu manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Jadi segala sesuatu yang dilakukan manusia memang atas kehendak dan kekuatan dari menusia tersebut.
d. Ahli sunnah dan jama`ah
Golongan ini timbul atas reaksi paham-paham golongan sebelumnya seperti Mu`tazilah dan qadariyah dan yang lainnya. Golongan ini, salah satunya menjunjung tinggi qaidah attasamukh (toleran) yaitu tidak seperti mu`tazilah yang begitu keras dalam menyiarkan agama. Ahl Sunnah dan Jamaah tidak menjunjung tinggi-tinggi kekuatan manusia dan juga tidak meyerahkan kekuatan sepenuhnya kepada Tuhan.[9]

            Dan diIndonesia juga bermunculah kelompok yang bersumber dari pemahaman aliran diatas :
1.      NU
2.      Muhammadiyah
3.      LDDI
4.      HTI
5.      Ahmadiyah
6.      DLL
Dan untuk mengantisipasi aliran sesat dan menyesatkan MUI memberi kriteria yang termasuk aliran sesat yang keluar dari Islam :
1.      Mengingkari salah satu rukun iman dan islam.
2.      Meyakini akidah yang keluar dari Al-Qur’an dan Hadist.
3.      Meyakini keluarnya wahyu setelah Al-Qur’an
4.      Mengingkari keberadaan Al-Qur’an dan Hadist
5.      Mengingkari Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul Alloh SWT.









    BAB III
              PENUTUP

A.      Kesimpulan
Demikianlah pembahasan tentang beberapa aliran teologi dalam islam. Ada yang bercorak liberal dan ada pula yang bercorak tradisional, bahkan ada yang diantara kedua-duanya. Dan setelah mengetahui beberapa aliran teologi dalam islam beserta sejarah singkatnya, di harapkan umat islam dapat mempunyai pandangan lain tentang islam yang tidak hanya dari sudut pandang halal dan haram saja, dan mengnggap islam itu sempit. Ynag mana teologi mempunyai sudut pandang yang lebih luas.

Semua aliran juga berpegang pada wahyu. Sebenarnya perbedaan terdapat pada interpretasi mengenai teks ayat-ayat Al-Qur`an dan Hadits. Dan ini juga seperti perbedaan yang terjadi dalam bidang hokum islam atau Fiqih. Yang selanjutnya menghasilkan beberapa madzhab-madzhab yang berbeda seperti yang dikenal dengan sekarang, yaitu madzhab hanafi, madzhab Maliki, madzhab hambali, dan madzhab Syafi`i.

Pada hakikatnya semua aliran-alairan yang timbul bukanlah keluar dari islam, tetapi masih tetap dalam islam. Dengan demikian umat islam dapat memillih salah satu dari aliran teologi tersebut menurut jiwa dan pendapatnya. Sebagaimana seseorang memilih madzhab dalam Fiqih.Dari sinilah kelihatan hikmah ucapan dari Nabi Mmuhammad SAW,” Perbedaan paham dikalangan umatku membawa rahmat”. Walaupun begitu kita tetap harus memilih aliran teologi yang paling mendekati dengan pedoman umat islam yaitu Al-Qur`an dan Hadits.

B.     Saran.
Demikianlah tugas penyusunan makalah ini kami persembahkan. Harapan kami untuk
mengembangkan  potensi yang ada dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa difahami oleh para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca. Khususnya dari Ibu Dosen yang telah membimbing kami dan para mahasiswa demi kesempurnaan  makalah ini. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.







DAFTAR PUSTAKA

Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/Kajian Islam
Smeer, Zeid B.2008, Ilmu Kalam : UIN Malang Press 2008




















[1] Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/11/Kajian Islam
[2] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[3] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[4] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[5] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008

[6] Serpihan-Islam.blogspot.co.id/2014/11/Kajian Islam
[7] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[8] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008
[9] H.Zeid B. smeer,Lc.MA,Ilmu Kalam : UIN-Malang Press,2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar